SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, menyatakan suhu udara di wilayahnya sekarang ini berada di atas rata-rata suhu udara di wilayah Jawa Timur.Â
“Di wilayah Jatim lainnya rata-rata sekitar 30-35 derajat celsius. Sedangkan di sini sekitar 37-39 derajat celsius,†kata Kepala DLH Bojonegoro, Nurul Azizah, kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (19/9/2017).
Menurut dia tingginya suhu udara tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya industrialisasi minyak dan gas bumi (Migas), hutan gundul, serta kurangnya ruang terbuka hijau.Â
“Terlebih di lokasi sekitar industri migas seperti di Lapangan Sukowati, Lapangan Banyuurip, dan sumur tua,” tukasnya.
Untuk meredam panasnya suhu udara ini, pihaknya mengaku telah mengirimkan surat kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, dan kepala desa untuk menggalakkan penghijauan di masing-masing wilayahnya.Â
“Bupati Suyoto sudah menginstruksikan semua pihak untuk bersama-sama melakukan gerakan menanam pohon,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Winto, membenarkan meningkatnya suhu udara di wilayahnya.Â
“Panasnya menyengat sekali, bukan seperti panas biasa,” ujarnya.
Disinggung penghijauan yang diberikan operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Winto mengaku masih belum maksimal. Masih banyak pepohonan yang dinilai belum tumbuh optimal.Â
“Belum ada yang berdampak dari pepohonan itu,†pungkasnya.
Menurut dia, seharusnya penghijauan di sekitar Lapangan Banyuurip dilakukan jauh hari sebelum produksi minyak berlangsung. Sehingga tanaman tersebut bisa meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut.
“Kalau empat atau lima tahun lalu sudah ditanam, sekarang pasti bisa terasa manfaatnya,†pungkas Winto. Â
Dikonfirmasi terpisah, juru bicara ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Rexy Mawardijaya, belum memberikan tanggapannya terkait hal ini.(rien)