SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pekan depan akan memanggil seluruh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) membahas ruang terbuka hijau (RTH) di sekitar lokasi industri minyak dan gas bumi (Migas) sesuai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
KKKS yang diundang antara lain operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Lapangan Sukowati, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ), dan operator sumur Tiung Biru dan sumur tua Pertamina EP Asset IV.
“Sejauh ini, dari pantauan kami semua lapangan migas di Bojonegoro RTHnya belum ada yang memenuhi 20 persen sesuai Amdal,” ungkap Kepala DLH, Nurul Azizah, kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (30/9/2017).
Oleh sebab itu, pihaknya akan meminta peta dari masing-masing KKKS apakah RTH yang dilakukan sudah sesuai dengan Amdal masing-masing. Apabila belum ada yang sesuai, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dengan tegas meminta semua memenuhinya.
“Kita lihat dulu pemaparan dari operatornya masing-masing, apakah RTH yang ada didalam maupun luar lokasi industri migasnya sudah sesuai atau belum,” tukasnya.
Nurul mengaku, suhu udara di Bojonegoro diatas rata-rata suhu di Jawa Timur, yakni antara 37-39 derajat celsius, padahal Kabupaten/Kota lainnya hanya sekira 35 derajat celsius saja.
“Tingginya suhu tersebut disebabkan banyak faktor, diantaranya kurangnya Ruang Terbuka Hijau, hutan yang gundul, dan adanya industri migas.(rien)