SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban -Â Kapolres Tuban, Jawa Timur, AKBP Sutrisno, langsung bergerak cepat menggandeng pentolan Bonek dan Perguruan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Tuban untuk melakukan deklarasi damai. Inisiatif tersebut dilakukan setelah adanya bentrok antara massa suporter Persebaya (Bonek), pada Minggu (1/10) dini hari yang merenggut nyawa dua anggota PSHT.
“Alhamdulillah deklarasi damai di ruang lobi Mapolres berjalan lancar,” ujar Kapolres Tuban, AKBP Sutrino, kepada suarabanyuurip.com, Jumat (6/10/2017).
Deklarasi damai tersebut merupakan sikap dewasa kedua belah pihak, terkait berita di Medsos (Facebook) yang berisi ujaran kebencian dan provokasi. Hasilnya PSHT dan Bonek Tuban diharapkan tidak terprovokasi dengan konflik tawuran di Surabaya dan Jember.
“Mari kita menjaga situasi Tuban tetap aman dan kondusif,” ajak pria kelahiran Makassar ini.
Dalam deklarasi hadir pula Kasdim 0811 Tuban, Mayor Suko Edi, PJU Polres, perwakilan pengurus PSHT yakni Hariyanto, Rustamaji, dan Warnadi. Ketua Bonek Tuban, Rojak, didampingi pengurusnya Jais, Arif, dan anggota Bonek Dadang.
Atas berbagai pertimbangan, akhirnya pengurus PSHT dan Bonek Tuban sepakat coling down dan tidak akan terpengaruh dengan konflik tawuran di Surabaya dan Jember. Sekaligus akan meredam situasi di kalangan anggota, baik anggota PSHT maupun anggota Bonek agar tidak terjadi gejolak.
Dalam keterangan resminya, Kepala Polrestabes Surabaya, Komisaris Besar Polisi Mohammad Iqbal, mengaku telah menangkap dua pelaku dari massa oknum Bonek berinisial MJ (24) warga Jalan Pogot Surabaya, dan MS (19) warga Jalan Balonhsari Surabaya.
Keduanya merupakan oknum bonek. Kenapa disebut demikian, karena sesungguhnya tidak ada suporter sepak bola yang ingin bermain kekerasan.
Bentrok berawal dari massa Bonek yang bersinggungan dengan sejumlah anggota PSHT di Jalan Tambak Osowilangon Surabaya. Persis setelah laga kandang Persebaya melawan Persigo Semeru FC pada pukul 23:00 WIB, Sabtu (30/9) malam.
Sebenarnya polisi berhasil membubarkan kedua pihak, ternyata massa Bonek masih menghadang di Jalam Balonhsari Surabaya. Akibatnya dua pesilat Eko Tristanto (23), dan Anis (20) meninggal.
Iqbal menjelaskan, kedua pesilat asal Kabupaten Bojonegoro itu meninggal dunia setelah sepeda motornya dibakar pukul 00:30 WIB, pada Minggu (1/10) dini hari. Melalui video yang dikumpulkan dari para saksi, akhirnya polisi mencocokan darah darah yang ada di batu dan identik dengan tersangka.
“Saat ini polisi terus mengembangkan penyelidikan kasus ini untuk mencari kemungkinan pelaku lainnya,” pungkas Iqbal.(Aim)