SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban-Â Apapun taruhannya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, Jawa Timur, bakal sekuat tenaga menyukseskan berdirinya Kilang Tuban berkapasitas 300 ribu Barel Per Hari (Bph). Penolakan warga Desa Mentoso, Kecamatan Jenu perihal perluasan kilang seluas 219 hektar, diharapkan tidak memicu Rosneft Oil Company asal Rusia hengkang dari Bumi Wali (sebutan lain Tuban).
“Soal pembebasan lahan harus ada jaminan untuk warga terdampak,” ujar Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, kepada suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi di gedung DPRD Tuban, Senin (6/11/2017).
Dalam sosialisasi maupun rencana pembangunan kilang yang masih butuh tambahan lahan, semua pihak harus berfikir baik dan jernih. Proyek Kilang Tuban masuk dalam daftar proyek strategis nasional. Sisi lain yang perlu diperhatikan, warga lokal masih membutuhkan pertumbuhan atau pembangunan ekonomi dan lapangan pekerjaan.
Diakuinya, setiap proyek di Tuban umumnya membutuhkan banyak lahan yang berada di permukiman padat penduduk. Lahan tersebut telah dikuasai, bahkan menjadi tumpuan hidup atau penghasilan warga Tuban.
“Harus dicarikan solusi atau jalan tengah,” pinta politisi PKB Tuban ini.
Tanpa adanya pembangunan Kilang Tuban, sulit bagi pemerintah memberikan pekerjaan ke warga. Apabila kilang sudah berdiri, pasti bakal mengurangi jumlah pengangguran di Tuban.
Sekalipun ada pembebasan lahan, tapi Wabup meminta warga tidak boleh merugi ataupun terlantar. Jaminan yang dimaksud,Pertamina-Rosneft harus mempekerjakan dan mengutamakan warga untuk bekerja di kilang.
“Khususnya pemuda yang masa depannya masih panjang untuk dipekerjakan,†terangnya.
Apabila warga terdampak tidak minta pekerjaan, Pertamina juga harus mencarikan solusi lain. Pemkab Tuban sendiri akan memediasi warga dan pihak terkait. Jika memang benar warga tak ingin melepas lahannya, pihaknya bakal berupaya mencarikan lahan di sebelah Timur atau Selatan dari Desa Mentoso.
Noor Nahar khawatir, jika penolakan warga terus berlangsung akan mempengaruhi komitmen Rosneft mengola kilang bersama Pertamina. Petani juga harus berfikir jika selamanya mau menanam jagung. Setiap tahun luasan lahan akan menyempit, seiring akan dibagi dengan anggota keluarga lain.
Sebelum kilang berdiri, Pertamina-Rosneft harus membuat kesepakatan, karena setiap warga kepentingannya tidak sama. Ada yang minta lahan, pekerjaan, atau tempat tinggal yang layak. Apapun persoalannya harus dicarikan solusi, tapi kalau tuntutan warga tidak masuk akal pemkab yang susah.
“Kecamatan Jenu memang lokasi yang dipilih pemkab tidak bisa menyalahkan atau iri,†tegasnya.
Adanya dua kubu di wilayah kilang Tuban, pihaknya sudah mengetahuinya. Diharapkan para spekulan lahan, tidak memancing di air yang keruh. Apabila satu atau dua kali mengabaikan peringatan, pemkab bakal bersikap tegas.(Aim)