SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban -Â Para petani di Desa Patihan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sejak tanggal 24 November 2017 kemarin telah memanen ribuan ekor tikus. Hama pengerat yang kerap merusak padi tersebut, dikumpulkan kemudian dibuang di Sungai Bengawan Solo.
“Kami buat lomba berburu tikus untuk menyemangati petani/pemilik sawah,” ujar salah seorang pengurus Hippa Mandiri Desa Patihan, Endi, kepada suarabanyuurip.com.
Tujuan diadakannya lomba buru tikus kali ini, tak lain untuk mengurangi hama di sawah. Untuk pesertanya, semua masyarakat khususnya yang memiliki lahan pertanian.
Lomba ini dimulai sejak tanggal 24-29 November 2017. Untuk hadiahnya dihitung per tanggal 24, 25, 26, 27 November per ekor tikus diganti uang Rp1.000. Sedangkan pada tanggal 28-29 November, setiap tikus dihargai Rp1.500.
“Hadiah ini menarik dan banyak masyarakat yang ikut lomba,” jelasnya sembari menunjukan catatan penangkap tikus.
Salah seorang peserta lomba, Rizal Firmansyah, mengaku geram dengan banyaknya hama tikus yang merusak tanaman padi. Selama ini, cara membasmi tikus masih menggunakan obat kimia.
“Petani tak menggunakan setrum karena bahaya,” sergahnya.
Obat kimia dinilai aman, dibanding memasang kabel teraliri arus listrik di sepanjang pematang sawah. Berbeda dengan tetangga desa yang menggunakan setrum, dan tak sedikit pula yang membunuh pemilik sawah sendiri.
Catatan panitia, sampai tanggal 27 November sudah terkumpul 3.241 ekor tikus. Ditargetkan dalam dua hari terakhir, mampu menembus di atas 4.000 ekor.
Sampai detik ini, petani Patihan belum memiliki inisiatif memelihara burung hantu sebagai musuh alami/predator tikus. Berbeda dengan petani di Kecamatan Plumpang, maupun Rengel yang sudah mengembangkan burung hantu menggunakan pagupon di setiap petak sawah.(Aim)