SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Usaha disektor sumur tua memang tidak bisa selalu mulus dinikmati, karena dipengaruhi oleh pasang surutnya harga minyak. Namun saat ini para penambang minyak mentah dari sumur tua tengah menikmati kenaikan ongkos angkut seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Seorang penambang asal Desa Ledok, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora Jawa Tengah, Agus Biharto (31), mengatakan, berkecimpung di sektor sumur tua ia lakukan sejak tahun 2005. Dalam usaha di sumur tua tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pasang surut usaha penambangan emas hitam musti terjadi. Rata-rata faktornya adalah penurunan harga minyak.
“Masa sulit maupun masa senangnya sudah saya alami,” kata Agus Biharto, kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (21/2/2018).
Sehingga membuat penambang banyak yang memilih berhenti dulu berkativitas. Kemudian pada awal semester 2 tahun 2017, penambang banyak yang memulai kembali usaha penambangan. “Bulan Januari kemarin harganya bagus. Perliter kami bisa memperoleh Rp2.700an,” ungkap Inga’, sapaan akrab Agus Biharto.
Setelah beberapa tahun mengalami keterpurukan, lanjut dia, awal Januari 2018 para penambang mulai merasakan hasil jerih payahnya. “Januari kemarin mulai ada titik terang, setelah selama ini berganti-ganti pengelolaan,” jelas pria yang juga sebagai anggota kelompok penambang sumur tua di kawasan Ledok ini.
Sekarang ini, sumur 98 yang dikelola oleh kelompoknya mampu berproduksi berkisar antara 12.000 liter sampai 13.000 liter perbulan untuk dikirim ke Pertamina Asset 4 Field Cepu, yang dibagi dalam 5 kali pengiriman.
“Untuk kelompok kami terdapat 24 orang. Jadi hasil dari sumur ini dibagi rata semua anggota, setelah dikurangi ongkos operasional. Termasuk ongkos sewa mesin dan tenaga kerja borong,” tuturnya.
Disamping mendapat penghasilan dari kenggotaannya sebagi kelompok penmbang, Inga’ mengaku juga memperoleh penghasilan dari ongkos tenaga kerja borong operasional sumur.
“Ini diborong tiga orang, dengan upah Rp150.000 per ton minyak mentah. Tapi ongkos borongan itu menyesuaikan dengan harga minyak,” kata dia.
Berbeda dengan Ahmad yang memilih menjadi tenaga kerja harian pada kelompok penambang yang mengelola sumur 142. Dia mendapat upah perbulan Rp.1.500.000 sebagai seorang sopir mesin penimba.
“Saya pilih kerja harian, supaya bisa mengerjakan pekerjaan sampingan lain,” terangnya. (ams)