SuaraBanyuurip.com –Â Ali Imron
Tuban- Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Bengawan Solo di wilayah Tuban, Jawa Timur, sudah turun di siaga hijau. Namun puluhan siswa asal Dusun Jepuro dan Klewer Desa Ngadipuro, Kecamatan Widang, masih harus dijemput tim Rescue Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban ketika hendak ke sekolah.Â
Tindakan BPBD ini dilakukan karena dua dusun tersebut masih terisolir, dengan kedalaman air di jalan lingkungan setinggi 1-1,5 meter.
“Masih banjir jalan yang biasa dilalui ke sekolah,” ujar salah satu siswi SD, Sintha, kepada suarabanyuurip.com usai naik perahu saat berangkat sekolah, Selasa (27/2/2018).
Dara cilik ini sangat berterimakasih kepada tim rescue BPBD Tuban. Kehadiran mereka sangat membantu para siswa untuk menempuh pendidikan di tengah bencana banjir tahunan.Â
“Terimakasih bapak BPBD,” terangnya sambil tersenyum.
Terpisah, Sekretaris Desa Ngadipuro, Bambang Sumantri, membenarkan jika dua dusun di wilayahnya masih terdampak banjir. Selain warga masih kesulitan aktifitas, para pelajar juga harus naik perahu untuk sekolah.Â
“Di Dusun Jepuro ada 265 Kepala Keluarga (Kk), dan di Klewer ada 197 Kk,” sergahnya.
Bambang bersyukur luapan banjir saat ini sudah surut. Namun kondisi di wilayahnya masih butuh perhatian di banding Kecamatan Plumpang, Rengel, dan Soko. Untuk kondisi jalan lingkungan di Dusun Klewer masih 1-1,5 meter, sedangkan untuk rumah masih aman karena rata-rata bangunannya tinggi.Â
Untuk antisipasi anak sekolah, pihaknya bersama tim BPBD sudah memfasilitasi perahu karet. Sejak hari Sabtu telah melakukan penyisiran dari pintu ke pintu rumah lainnya.
“Awalnya dipusatkan di satu titik tapi karena tinggi air berbeda jadi disisir,” jelasnya.
Antar jemput anak sekolah telah dilakukan tim rescue sejak hari Sabtu, Senin, dan Selasa. Aktifitas ini akan berlangsung sampai banjir benar-benar surut, dan tidak menggenangi jalan poros dan lingkungan desa.Â
Tahun 2018 ini hampir 75% warga di Desa Ngadipuro, sudah terbebas dari banjir. Hal ini berkat peninggian tanggul di Dusun Jepuro dengan anggaran Dana Desa (DD) 2017 sebesar Rp350 juta. Dari anggaran tersebut berhasil dibangun tanggul sepanjang kuranh lebih 1.014 meter.Â
“Ke depan kami ingin jadi tangguh bencana percontohan seperti di Malang,” tambahnya.Â
Salah satu tim Rescue BPBD yang siaga di pos bencana Kecamatan Widang, Frans Supriyadi, berterimakasih kepada Pemdes Ngadirejo yang telah mendukung kinerja tim rescue BPBD. Diharapkan sinergi ini dikembangkan juga di desa lain di tepi Bengawan Solo, demi keselamatan warga terdampak banjir.Â
“Meskipun kami hanya 3 orang tapi mampu bersinergi dengan masyarakat dan Pemdes Ngadipuro,” pungkasnya. (aim)