SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Syahbandar Tuban, Jawa Timur, menyebut kedatangan investor Rosneft Oil Company asal Rusia yang bersinergi dengan Pertamina di Kilang NGRR Tuban akan menambah kepadatan pengguna jasa laut di Kecamatan Jenu. Data yang dimilikinya aktivitas laut kilang pengolahan minyak berkapasitas 300 ribu barel per hari (bph) itu, dua kali lipatnya Kilang PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI).
“Kalau di TPPI ada 20 kapal, maka Rosneft bisa mendatangkan 40 kapal setiap harinya,” ujar Koordinator Wilayah (Korwil) Tanjung Awar-awar Syahbandar Tuban, Boby Mulya Kusuma, kepada suarabanyuurip.com, Senin (9/4/2018).
Pria asal Banyuwangi ini menjelaskan, jika dari lima kecamatan di Bumi Wali (sebutan lain Tuban) yang paling padat pengguna jasa lautnya di Kecamatan Jenu. Berikutnya Kecamatan Tambakboyo, dan terakhir di Kecamatan Palang.
Sebelum ada Kilang Tuban, di Kecamatan Jenu sudah ada pengguna jasa laut seperti PLTU Tanjung Awar-awar, Kilang TPPI, dan PT Semen Indonesia. Di Kecamatan Tambakboyo ada PT Semen Holcim, dan di Palang ada kapal yang mengambil minyak dari kapal alir muat FSO Gagak Rimang, dan FSO Cinta Natomas.
“Di Kecamatan Jenu yang paling banyak pengguna jasa lautnya,” terang pria yang bertugas di Tuban sejak 2010 itu.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tuban, Faisol Rozi, membenarkan jika di Jenu paling semrawut dan ruwet pengguna jasa lautnya. Selain banyak kapal yang tertib sandar di titik yang ditentukan Syahbandar, banyak pula yang bandel labuh sembarangan.
“Dan itu merugikan nelayan lokal,” sergahnya.
Dalam waktu dekat, HNSI akan menyurati Syahbandar Tuban untuk segera menertibkan kapal yang labuh sembarangan. Pengawasan dan penertiban laut harus ditingkatkan, setelah Kilang Tuban beroperasi.
“Karena Syahbandar yang memiliki wewenang di laut,” pungkasnya. (Aim)