Kapal Labuh Sembarangan, SIUPAL Dapat Dibekukan

Boby Mulya Kusuma

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Koordinator Wilayah (Korwil) Tanjung Awar-awar Syahbandar Tuban, Jawa Timur, Boby Mulya Kusuma, mewarning semua perusahaan yang menggunakan transportasi laut jika kapalnya berlabuh sembarangan dan mengganggu aktivitas nelayan Tuban.

Apabila masih mengabaikan teguran, Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut (SIUPAL)-nya akan dievaluasi dapat dibekukan maupun dicabut.

“Kami akan bertindak tegas jika masih ada kapal yang berlabuh sembarangan,” ujar Boby saat dikonfirmasi suarabanyuurip.com, di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu, Minggu (8/4/2018).

Pria asal Banyuwangi ini, mengaku masih menunggu surat dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Tuban. Apabila nelayan lokal merasa terganggu, pihaknya akan mengumpulkan kembali semua operator pelabuhan perusahaan di Tuban. Terakhir kali pertemuan pada 2016 lalu.

Setelah mendengar keluh kesah nelayan Desa Beji, Kaliuntu, Mentoso, dan Socorejo, Kecamatan Jenu, dirasa sangat perlu dilakukan penertiban ulang. Kapal seperti ini biasanya menunggu antrean sandar, ada juga yang sengaja berlabuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Baca Juga :   31 Drum Band Meriahkan HUT Bhayangkara

“Untuk sandar dan labuh sudah ada titik koordinatnya,” terang pria yang bertugas di Tuban sejak 2010 ini.

Awalnya aktivitas labuh ini dirasa akan menguntungkan nelayan, karena perahunya disewa. Belakangan dengan mempertimbangkan kepentingan semua nelayan, pihaknya akan menindak tegas pelanggaran itu.

“Kemarin Kemenhub sudah membekukan 1.000 SIUPAL di Tuban, Lamongan, dan Pacitan,” bebernya.

Ketua HNSI Cabang Tuban, Faisol Rozi, telah menginstruksikan semua Rukun Nelayan (RN) khususnya di Kecamatan Jenu untuk membuat surat yang berisi keluhan nelayan. Setelah dicap stempel HNSI, surat tersebut akan diserahkan langsung ke Syahbandar Tuban.

“RN sudah saya instruksikan untuk membuat surat,” sergah pria yang berdomisili di Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban itu.

Faisol mengakui, dari panjang keseluruhan bibir pantai di Tuban 65 Kilometer (Km) yang paling ramai dan semrawut ada di Kecamatan Jenu dan Tambakboyo. Diantara perusahaan yang menggunakan transportasi laut adalah PLTU Tanjung Awar-awar, Kilang Minyak PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI), PT Semen Indonesia, dan PT Holcim Indonesia.

Baca Juga :   Menanti Buka, Komunitas Trail Beraksi di Lapangan Sukowati

“Yang paling ruwet jalur laut di Jenu dan Tambakboyo,” jelasnya.

Diharapkan Syahbandar tak henti-hentinya menertibkan kapal yang berlabuh sembarangan. Supaya para nelayan Bumi Wali (sebutan lain Tuban) dapat melaut dengan tenang dan aman.

Ketua RN Beji, Sholeh, mengaku, sejak 2001 mulai terganggu dengan adanya kapal berlabuh sembarangan. Labuh yang tidak pada tempatnya sangat mengganggu dalam menangkap ikan.

“Kadang kalau jaring nyangkut langsung sobek,” pungkasnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *