Bersama-sama Bangkitkan Campursari

Campursari

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro – Musik dapat mengubah dan berubah sesuai tuntutan zaman. Namun, tetap mempunyai makna dan sejarahnya, tak terkecuali Campursari. 

Seiring berjalannya waktu keberadaan musik yang popular di era 1970 an ini, mulai mengalami penurunan peminatnya. Pelaku seni jarang mendapat job manggung, terlebih tidak adanya regenerasi akibat tidak ada pembinaan dari Pemkab setempat.

Realita inilah yang mengilhami pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, menyiapkan program seni dan budaya. Pasangan yang dikenal dengan sebutan “Mulyo – Atine” ini, akan memberdayakan dan memajukan kesenian tradisional melalui pelatihan, pembinaan, membangun sarana dan prasarana, serta memberikan ruang melalui event-event tingkat lokal hingga nasional.

 Agar nasib yang seperti dialami Endah Setyo Laras, Sinden asal Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan tidak terjadi lagi kedepannya. Wanita berusia 40 tahun ini merasakan penurunan job dibanding sepuluh tahun lalu. 

“Sekarang kalah dengan lagu-lagu dangdut,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (21/4/2018). 

Untuk mempertahankan eksistensinya, ibu tiga anak ini terus berlatih vokal sendiri agar kualitas dan suara tetap terjaga. Masih ada penggemar setia Campursari yang senang dengan suara merdunya. 

Baca Juga :   Pawai Budaya Ngumpakdalem Berlangsung Semarak

“Walau minat menurun, alhamdulilah masih ada yang nanggap,” tandas Endah, panggilan akrabnya. 

Selama ini, dia biasa tampil di acara-acara hajatan milik warga Bojonegoro. Belum ada undangan dari luar kota. Endah sering tampil dari satu group ke group lainnya. 

“Iya, biasa diminta tolong sama grup-grup lainnya,” imbuhnya. 

Endah mengaku sudah berkesenian selama puluhan tahun. Namun belum ada pembinaan dari Pemkab, baik itu pelatihan, atau perhatian lainnya. 

“Saya berharap, pemerintah kabupaten itu bisa membantu seni campursari supaya tetap eksis dan tidak hilang atau kalah dengan lagu modern sekarang ini,” tandasnya. 

Senada disampaikan pelaku seni campursari lainnya, Ngarsono. Warga Desa Beged, Kecamatan Gayam ini, sudah mendalami seni sejak tahun 1997. Berawal dari bermain musik Karawitan, kemudian tertarik dan mulai beralih jenis Campursari. 

“Saya di sini main Gendang. Bisa main itu ya otodidak atau belajar sendiri melalui CD maupun youtube,” sambungnya secara  terpisah. 

Selama ini Ngarsono tampil di hajatan masyarakat seperti pernikahan , khitanan, dan event-event tertentu saja di seputaran Bojonegoro. 

Baca Juga :   Sedekah Bumi Jetis Gelar Bazar Tradisional

“Belum sampai keluar kota,” ucapnya. 

Oleh karena itu, dia terus berlatih dan meningkatkan promosi ke daerah daerah lain supaya tetap eksis, dan dikenal masyarakat luas. 

“Belum ada bantuan promosi dari Pemkab, selama ini berupaya sendiri,” jelasnya. 

pihaknya berharap, Pemkab kedepan ikut serta melestarikan budaya campursari dengan membantu mempromosikan, dan memberikan pendampingan. 

“Harapannya semoga itu bisa terwujud,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, mengaku prihatin dengan meredupnya kesenian tradisional di Bojonegoro. Sedangkan di sisi lain, pelaku seni tradisional masih bersemangat menjaga eksistensinya untuk melestarikan.

“Untuk itu kedepan kita akan bersama-sama membangkitkan lagi kesenian tradisional ini,” tegas Pak Mul sapaan akrabnya.

Pihaknya telah menyiapkan sejumlah program untuk memajukan seni dan budaya tradisional ini. Yakni dengan memberikan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas pelaku maupun kelompok seni agar melahirkan regenerasi.

“Kita juga akan membangun seribu balai seni hingga tingkat pedesaan serta peralatan yang dibutuhkan, agar menjadi tempat belajar mengembangkan diri dan meningkatkan kreativitasnya,” jelas cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *