Pasangan Mulyo-Atine Akan Bina Kelompok Campursari

Campursari

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro – Kelompok campursari di Bojonegoro, selama ini berjuang sendiri mempertahankan kesenian tradisional  agar tidak punah ditelan jaman. Banyak bibit muda memiliki potensi yang dapat melestarikan,  dan memajukan kesenian ini jika diberikan pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan.

Hal inilah yang akan dilaksanakan pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, dalam lima tahun kedepan jika dipercaya memimpin Bojonegoro. Pasangan yang memiliki tagline “Semua Bekerja, Semua Sejahtera” ini, telah menyiapkan sejumlah program untuk kembali membangkitkan dan memajukan kesenian tradisional di Bumi Angling Dharma. 

Agar harapan melestarikan campursari seperti yang disampaikan Ketua Campursari Sanggar Seni Plais, Supriyadi, bisa terwujud. Kesenian ini merupakan budaya asli Jawa yang harus dipertahankan, dan dikembangkan.

“Kesenian ini jangan sampai punah. Harus tetap dilestarikan,” tegasnya kepada wartawan, Sabtu (21/4/2018). 

Sudah lama Supriyadi suka Campursari, tahun 2001 baru bisa membuat kelompok sendiri. Kelompok miliknya selama ini sudah dikenal seantero Nusantara. Tidak hanya di lingkup Kabupaten Bojonegoro saja, tetapi juga kabupaten dan kota se Indonesia. 

“Bahkan pernah tampil di salah satu stasiun televisi,” ungkapnya. 

Campursari harus terus dipertahankan karena gaya musiknya  berbeda, dan memiliki ciri khas tersendiri di telinga pendengar setianya. Banyak bibit-bibit muda yang sebenarnya memiliki potensi mengembangkan Campursari ini, namun belum ada campur tangan pemerintah. 

Baca Juga :   Wujudkan Desa Wisata, EMCL Bersama Ademos Gelar Lokakarya

“Karena belum ada campur tangan pemerintah inilah, kelompok kami berupaya memberikan pembinaan kepada pesinden-pesinden muda di Bojonegoro,” jelas warga Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Bojonegoro. 

Banyak pesinden muda mulai bermunculan tanpa pendampingan dari Pemkab. Mereka butuh pelatihan karena banyak yang harus dipelajari dalam berkesenian Campursari. 

“Seperti tekhnik bernyanyi, cara berpakaian, dan lain sebagainya,” tegasnya. 

Oleh sebab itu, dia berharap kepada Bupati terpilih mendatang memiliki kebijakan yang pro kesenian tradisional salah satunya Campursari. Yakni, dengan memberikan pendampingan dan pelatihan bagi seniman tradisional agar tetap lestari. 

“Peran pemerintah di sini hanya melibatkan kami sebagai pelaku seni setiap ada kegiatan atau event-event besar,” pungkasnya. 

Serupa disampaikan Ketua Campursari Mugi Selaras, Iswahyudi. Selama ini tidak ada perhatian dari Pemkab untuk membantu eksistensi Campursari di Bojonegoro. 

“Kalau promosi ke mana-mana ya dilakukan sendiri,” sambung warga asal Desa Mejuwet, Kecamatan Sumberjo ini dikonfirmasi terpisah. 

Pihaknya sangat berharap adanya perhatian pemerintah tidak hanya untuk membantu promosi terhadap kesenian Campursari, tapi juga pencarian dan pembinaan bibit-bibit muda Campursari untuk re generasi mendatang. 

Baca Juga :   Cak Percil dan Cak Shodiq akan Hibur Pengunjung Pasar Rakyat Jatim di Bojonegoro

“Sekarang sudah banyak para remaja yang minat terhadap Campursari, hanya saja tidak ada wadah untuk itu,” tukasnya. 

Menurutnya, Pemkab sangat mampu untuk memberikan apresiasi keberadaan seniman tradisional salah satunya Campursari agar tidak hilang ditelan zaman. 

“Kami terus berupaya melestarikan seni campursari ya dengan upaya sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, mengaku terus berupaya melestarikan seni budaya tradisional tidak terkecuali Campursari. Pihaknya juga telah melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap pelaku seni Campursari di Bojonegoro selama ini. 

“Bahkan, kita pernah menyelenggarakan Campursari Idol tahun 2015 lalu untuk mencari bibit bibit baru Campursari,” tandasnya. 

Dimintai tanggapannya, Cabup Soehadi Molejono, menyatakan, kedepan akan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku seni tradisional secara berkelanjutan, dan melibatkan mereka dalam even-event lokal, regional hingga nasional. Selain itu, juga akan membangun seribu balai kesenian hingga tingkat pedesaan beserta peralatan yang dibutuhkan.

“Agar bisa menjadi tempat belajar mereka untuk meningkatkan kreativtasnya dan mengembangkan diri menjadi pelaku maupun kelompok seni yang professional,” pungkas mantan Sekda Bojonegoro yang sudah mengabdikan diri selama 32 tahun menjadi PNS di Pemkab ini.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *