SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Terjadinya kekosongan stok gas di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) berimbas pada sulitnya masyarakat mendapatkan elpiji 3 kilogram (kg). Selain sulit, harga elpiji melon tersebut juga cenderung mahal.
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Wilayah Pati, Suma Novendi, menyatakan, jika ada keterlambatan bongkar kapal tanker pengangkut gas. Selain itu, juga terjadi penurunan produksi di kilang RU IV Cilacap.
“Info dari domestic gas Pertamina, kejadian hari ini dampak dari kehabisan stock karena tanker terlambat bongkar akibat adanya KRI. Juga menurunnya produksi kilang RU IV dari 1.500 MT (Matric Ton) menjadi 1.200 MT. Akibatnya ada tambahan 20-30 skid tank dari depot Cilacap ke terminal LPG depot OPSICO di Tanjung Mas Semarang,” ujarnya, Rabu (20/6/2018) malam.
Suma, sapaan akrabnya menuturkan, depot Cilacap hari ini menyalurkan 1.200 MT. Sehingga total Cilacap dan OPSICO sudah melayani 3.300 MT sampai saat ini.
“Konsumsi MOR IV sekitar 3.800 MT. Berarti sampai jam 16.00 WIB bisa terpenuhi semua. Sisanya untuk menambah stock tanki SPBE,” ujar Suma.
Sementara terkait tingginya harga gas melon di pasaran, pihaknya menganggap itu adalah permainan pengecer.
“Memang ini barang subsidi. Untuk agen dan pangkalan jual ada aturan Het-nya. Tapi perlu diketahui bahwa ada pengecer LPG yang bermain harga dan hukum pasar yang bicara. Supply and Demand,” ungkapnya.
Bila demand lebih besar dari supply, kata dia, tentunya harga tinggi. Sebab, elpiji juga merupakan barang keekonomian yang semua orang bisa jualan.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bahwa warga di Kecamatan Randublatung kesulitan mendapatkan gas ukuran 3 kg. Bahkan, warga setempat terpaksa menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak. Disamping harga elpiji melon cukup mahal, barang untuk orang miskin itu juga susah diperoleh. (Ams)