Pambangunan Jalan Purwosari Makan Korban

Pembangunan jalan Purwosari-Ngambon

SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno

Bojonegoro – Pembangunan jalan dari arah Desa Purwosari hingga Desa Tlatah, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, disinyalir sering memakan korban kecelakaan tunggal. Sebab tidak dilengkapi dengan rambu-rambu dan pembatas jalan. Debu beterbangan juga berpotensi menggangu kesehatan masyarakat.

Seperti yang dialami Anita, warga Rukun Tetangga (RT) 09, Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo. Anita terjatuh lantaran terpeleset karena jalan penuh pasir.

“Jalannya banyak pasir campur pecahan batu kecil-kecil jadi licin dan ditambah minimnya rambu-rambu peringatan di sekitar pembangunan,” ujar Anita, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (11/10/2018).

Hal serupa juga pernah dialami Jatmiko, warga Desa Sedahkidul, Kecamatan Purwosari. Pemuda bertubuh gemuk itu mengaku, belum lama ini mengalami kecelakaan tunggal saat melintasi jalan tersebut. Sehingga membuat dirinya harus terbaring meringis kesakitan usai terjatuh. Akibatnya membuat aktivitasnya terhambat hingga beberapa hari.

“Saya terpeleset saat mengendarai sepeda motor,” ujarnya.

Sangat disayangkan tidak adanya rambu pembatas jalan sepanjang lokasi pembangunan. Disamping itu, juga tidak diketahui pihak perusahaan mana yang melaksanakan pembangunan lantaran tidak adanya papan informasi pelaksana pekerjaan.

Baca Juga :   Warga Gayam Tumpah Ruah Saksikan Festival Layang-layang

“Sebagai masyarakat bawah tentu kami bingung mau ngasi saran siapa jika tidak mengetahui pelaksananya,” keluh pria gendut ini. 

Terpisah Kepala Desa (Kades) Sedahkidul, M. Choirul Huda, menyampaikan, terkait adanya pekerjaan pembangunan jalan yang melintasi wilayah desanya sama sekali tidak ada koordinasi dengan kades jalur pembangunan meskipun itu jalan Kabupaten. Meliputi, Kades Purwosari, Pojok, Punggur dan Tlatah.

“Untuk meminimalisir dampak dari pekerjaan minimal bisa memberi informasi pelaksanaanya,” ujarnya.

Terlebih dampak debu yang ditimbulkan juga telah mengganggu kesehatan bagi masyarakat sekitar. Salah satunya adalah batuk.

“Boleh dicek ke rumah warga terutama yang rumahnya di pinggir jalan,” terang Kades humanis ini.

Keluhan debu tersebut, menurut dia, waktu itu masih pedel, sirtu maupun sekarang cor dasar. “Jadi substasinya bukan sudah disiram. Tapi harusnya disiram berapa kali  biar tidak parah dampaknya debu,” tegasnya.

Huda, sapaan akrabnya menambahkan, adanya cor panjang yang tidak menyambung dan tidak dilengkapi rambu-rambu serta penjaga tutup buka selama 24 jam, berpotensi menyelakakan pengguna jalan.

Baca Juga :   Pisah Sambut Kapolres Tuban Dikirab Kereta

“Sudah sempat saya sampaikan ke pelaksana tapi tidak di hiraukan,” tukasnya.

Mewakili kades sepanjang jalur pembangunan, Huda menghimbau agar pelaksana berkoordinasi. Karena yang dikerjakan adalah proyek Negara. Jadi apa jeleknya melakukan koordinasi yang baik dengan Pemerintah Desa (Pemdes) demi kebaikan bersama. 

“Kita ini sebagai kades juga mengemban amanah mengabdi untuk Negara dan masyarakat,” tandasnya.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *