Jamur Tiram Tuban Tetap Produksi di Musim Kemarau

Pembudidaya Jamur Tiram Tuban

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Musim kemarau menjadi tatantangan tersendiri bagi pembudidaya jamur tiram sekitar pabrik semen di Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Suhu panas menjadi salah satu penyebab turunnya jumlah produksi jamur.

“Jamur tiram panen melimpah saat musim penghujan atau cuaca dingin,” ujar pembudidaya jamur tiram, Darmaun (39), ketika ditemui suarabanyuurip.com, di kediamannya, Jumat (19/10/2018).

Maun sapaan akrabnya, menjelaskan disaat musim penghujan ukuran jamur lebih lebar. Dalam sehari panen jamur rata-rata 20 sampai 35 Kilogram (Kg). Dengan harga jual di pasaran Rp20 ribu/Kg, dan ketika didatangi tengkulak di rumah dihargai Rp18 ribu. 

Sedangkan disaat kemarau, diameter jamur lebih kecil. Rata-rata perhari hanya mampu memproduksi 20 Kg. Dengan harga di atas normal naik Rp3 ribu/Kg. Kenaikan harga makanan ringan bergizi ini seiring berkurangnya produksi. 

“Saat kemarau dapat disiram dua kali sehari, karena jamur hidupnya di tempat lembab,” jelas pria ramah ini. 

Pembudidaya jamur yang memiliki lima karyawan ini, menambahkan dari segi pemasaran, jamur segarnya telah menyuplai sentra pembuatan MSG (pengganti micin) di Tuban tepatnya di Kecamatan Tambakboyo. Sedangkan untuk olahan jamur seperti keripik, maupun bakso jamur dan lainnya dipasarkan via online. 

Baca Juga :   Jadi Trend, Perajin Batu Akik Menjamur

Laba bersih yang didapat Maun dalam sebulan kisaran Rp15-20 juta. Penghasilan tersebut berasal dari jual jamur segar, olahan jamur, baglog jamur tiram dan lain sebagainya. 

Usaha yang diawali sejak 2011 ini, merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT UTSG. Dari sinilah, pimpinan Kelompok Tunas Makmur dikenal dan beberapa kali diundang di Kabupaten Lamongan, Gresik, dan Surabaya.

“Pekan depan juga diundang Bappeda Tuban,” paparnya. 

Soal ilmu Ma’un tak pernah pelit, karena kesuksesannya berawal dari belajar di Madiun yang difasilitasi perusahaan tambang yang beroperasi di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek. Sering kali usahanya juga menjadi rujukan belajar, oleh mereka yang ingin mempraktikkan ilmu dan teorinya secara langsung. 

Ada beberapa tahapan memproduksi jamur tiram, dimulai dari menyediakan bahan berupa serbuk kayu, bekatul, tepung biji bijian, kapur dan air. Bahan tersebut kemudian diaduk. Setelah menjadi kompos dibiarkan semalam, dan masuk tahap pengepakan.

Dilanjutkan proses pengukusan antara 5-7 jam dengan suhu 100 derajat. Selepas itu, didinginkan dalam 24 jam, dan diberi bibit (inokulasi). Kemudian dimasukkan kedalam inkubasi (tempat pertumbugan misilium jamur), dalam jeda waktu 30 hari akan tumbuh tunas jamur.

Baca Juga :   Semen Indonesia Edukasi Batik Gedog ke Pelajar Margorejo

Selama enam jam karyawannya mampu menghasilkan 1.000 baglog. Jika sampai sore rata-rata mampu membuat 1.500 baglog. Jumlah ini masih belum mampu memenuhi permintaan pasar, karena pelangganannya memesan mininal 1.000 dan maksimal 10 ribu baglog. 

Keberhasilan pembudidaya jamur tiram asal Desa Tlogowaru, disyukuri oleh Supervisor CSR PT. UTSG Widya Winarno. Dikarenakan saat musim kemarau masih bisa produksi, meski hasilnya tak semelimpah dikala musim penghujan. 

Budidaya jamur tiram Kelompok Tunas Makmur inilah yang menjadi pilot project. Karena usaha serupa di Desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak, dan Desa Karangasem, Kecamatan Jenu, belum sesuai harapan.

Dari sinilah diharapkan masyarakat sekitar bisa belajar, sekaligus menggelutinya sebagai penghasilan tambahan keluarga. Melalui latihan dan bimbingan kelompok yang berhasil, tentu resiko kegagalan dapat diminimalisir.

“Apalagi harga baglog perbijinya sangat murah yaitu Rp2.500,” sambung pria yang hobi menikmati air perasan buah Mengkudu. 

Selepas program CSR-nya dirasa tepat sasaran, perusahaan juga tak langsung lepas tangan. Sampai sekarang pihaknya masih intens membantu di bidang pemasaran, dengan cara mengenalkan satu persatu jaringan ke yang lainnya. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *