SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Satuan Polisi Pamong Praja, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, mengklaim telah melakukan razia dan penertiban terhadap penambangan pasir mekanik di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.
“Kami sudah melakukan penertiban dan tidak terhitung lagi jumlah serta lokasinya,” kata Kasatpol PP, Achmad Gunawan, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (22/10/2018).
Meski ditertibkan, namun para penambang pasir yang beroperasional dari ujung Bojonegoro Timur sampai ujung Barat tersebut, tidak kunjung menghentikan kegiatan yang dinilai membahayakan ekosistem dan infrastruktur salah satunya jembatan.
“Apa ya kendalanya, tidak tahu juga,” ujar mantan Camat Malo.
Selama ini, dalam menertibkan kegiatannya, Satpol PP telah menyita peralatan mekanik yang digunakan untuk menyedot pasir. Namun, hal itu tidak mampu membuat pemiliknya jera.
Menurut pria berambut cepak ini menyebutkan, maraknya penambangan ilegal tersebut karena dulunya Satpol PP tidak memiliki kelengkapan penegakan pidana. Berbeda dengan tahun 2018 yang sudah memiliki semua itu.
“Seperti yang kita lakukan pada penambangan pasir di Desa Sidorejo, Kecamatan Padangan yang kita tempuh penindakan cara pidana,” tandasnya.
Namun, ternyata hal itu tidak mudah dilakukan karena dalam masa penyelidikan, tidak menemukan siapa pemilik tambang tersebut. Sehingga, yang diamankan dan diperiksa merupakan pekerja.
“Kedepan, kita akan tindak tegas para pemilik tambang,” pungkasnya.
Terpisah, salah satu pekerja tambang pasir di Desa Semanding, Kecamatan Bojonegoro, Basir, menyampaikan, sejak satu tahun terakhir bekerja belum ada razia dari manapun.
“Tidak ada razia, karena kami tidak melanggar,” imbuhnya.
Pria asal Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban ini, mengaku, setiap harinya bisa mengangkut 3 sampai 5 truck material pasir ke Kabupaten Lumajang atau wilayah lainnya di luar Bojonegoro.
“Kita ambil pasirnya manual, tidak ada yang mekanik,” pungkasnya.
Begitu juga pekerja tambang di Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, mengaku, sepengetahuannya sejak tahun 2017 sudah tidak ada yang menggunakan alat mekanik dalam menambang pasir.
“Sini, semuanya manual,” kata Parjo, pria yang mengaku menjadi penambang sejak puluhan tahun.(rien)Â