Empat Hari Sekolah Ditemani Ulat Jati

Bersihkan ulat jati

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban- Para pelajar di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, memiliki pengalaman unik karena empat hari terakhir selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ditemani ulat jati. Sebagian dari mereka ada yang geli dengan ulat, dan ada pula dijadikan candaan dengan teman sebaya.

“Takut dan geli kalau lihat ulat jati jalan,” ujar siswi SMPN 4 Semanding, Pepyta Tiara Tiadora, ketika ditemui suarabanyuurip.com di sekolahnya, Senin (10/12/2018).

Siswi kelas 9 ini juga merasa terganggu saat belajar di kelas, karena ulat merayap di dinding atau tembok ruangan. Adapun ulat di meja, kursi, dan lantai kelas langsung dibersihkan menggunakan sapu.

Dara berkulit sawo matang ini, tiap pagi bersama teman-temannya harus bersih-bersih kelas sebelum KBM dimulai. Sekalipun belum ada murid yang gatal-gatal karena ulat, tapi keberadaaanya merusak konsentrasi/fokus belajar.

“Tak jarang siswi mendadak teriak dan menjerit saat ulatnya nempel di seragamnya,” ceritanya sambil senyum.

Selain di kelas, ulat berbulu halus berwarna hitam dengan garis kuning juga memenuhi Musholla sekolah. Konsekuensinya sebelum pelajar menunaikan Sholat Dhuha, harus menyapu dulu supaya bersih.

Baca Juga :   Diduga Ditinggal Nikah Pacar, Pemuda di Bojonegoro Gantung Diri

Fenomena munculnya ulat jati tercatat sudah delapan tahun atau sejak berdirinya sekolah tahun 2010. Hal ini karena persis di depan sekolah ada puluhan tanaman jati milik warga sekitar.

“Ulat ini munculnya tahunan saban awal musim hujan,” sambung Humas SMPN 4 Semanding, Ninik Windartini, S.Pd terpisah.

Ninik biasa disapa menambahkan, ulat jati ini pertama menyerbu lembaganya mulai hari Kamis (6/12) pekan kemarin. Puncaknya hari Sabtu (8/12), dan untuk saat ini populasi serangga yang bergelantungan dengan benangnya mulai menurun.

Di puncak serbuan, ulat tiap pagi memenuhi pagar masuk sekolah, ruang lobi, ruang kepala sekolah dan guru, parkiran, dan musholla. Gara-gara ulat tersebut, para guru dan karyawan tak berani memparkirkan motornya di tempat yang disediakan.

“Pemilik motor lebih suka parkir kendaraannya di tempat terbuka,” imbuhnya.

Pengalamannya munculnya ulat tak bertahan lama. Sebentar lagi serangga tersebut akan berubah menjadi kepompong. Sekaligus menjadi sumber penghasilan warga sekitar karena harganya lumayan Rp80.000/Kg.

Satu-satunya cara manual membersihkan ulat hanya dengan menyapunya. Pihaknya tidak menggunakan semprotan, karena lembaga belum memilikinya.

Baca Juga :   Suami Bacok Selingkuhan Istri

“Yang usil disini siswa yang menggoda siswi dengan ulat jati itu,” pungkasnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *