SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban-Â Petani garam di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang semula tidak dapat memproduksi garam di musim hujan, sekarang dengan menerapkan sistem tunel (buka tutup) tetap bisa memproduksi garam selama setahun. Penerapan sistem tunel juga dapat menghasilkan produksi garam sebanyak 164,4 ton per tahun.Â
“Bukan sekedar inovasi, tetapi juga harus membawa nilai ekonomi yaitu mampu menyejahterakan masyarakat,†ujar Bupati Tuban, Fathul Huda bersama istri dan Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak), Amenan, selepas membuka Panen Raya Garam Sistem Tunel (Buka Tutup) Garam Rakyat di Desa Leran Wetan, Palang, Rabu (26/12/2018).Â
Bupati petahana di Tuban Bumi Wali menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat pada program inovasi dari Diskanak bersama peneliti dari Universitas Brawijaya. Hasil inovasi tersebut diharapkan memberikan output yang bermanfaat bagi masyarakat.
Program ini dapat dilakukan optimalisasi dari lahan sekaligus waktu produksi. Disamping itu, meningkat hampir 100 persen atau sekitar 64 ton bila dibandingkan dengan cara konvensional.
“Dengan cara ini petani garam mendapatkan untung lebih banyak dibandingkan dengan cara konvensional,” imbuh mantan Ketua PCNU Tuban.
Bapak empat anak itu merasa perlu adanya kajian mendalam untuk selanjutnya dapat dikembangkan pada lahan petani garam lainnya. Sehingga mampu memberikan manfaat yang sesuai keinginan.
Direktur Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya, Andi Kurniawan, menjelaskan program ini bertujuan mengubah pandangan masyarakat bahwa meski musim hujan tetap dapat produksi garam.Â
“Di samping itu, produksi garam dengan sistem tunel memiliki kualitas 90 Nacl atau setara dengan kualitas industri,†sambungnya.
Setiap area produksi mencapai satu hektar dapat dibangun 14 tunel lahan produksi dengan ukuran meter persegi. Dari 14 tunel tersebut dapat dibagi enam tunel peminihan, empat tunel tandon, empat tunel kristalisasi. Dari empat tunel kristalisasi, masing-masing tunel mampu memproduksi 300 kg garam (0,3 ton).Â
Penerapan metode tunel dapat dilakukan panen dua kali dalam satu bulan dengan asumsi produksi enam bulan musim kemarau dan enam bulan musim hujan. Setelah melewati proses kristalisasi maksimal 15 hari dapat dilakukan panen garam.
Dengan harga garam Rp1000 per kilo, petani dapat memperoleh pendapatan kurang lebih mencapai Rp16,4 juta per tahun. Diharapkan inovasi dari kerja sama antara Diskanak dan para peneliti ini, mampu memberi dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat. (aim)