Harga Gabah di Blok Cepu Terus Merosot

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Harga gabah di wilayah ring satu Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus merosot. Musim penghujan dan ambruknya tanaman padi memasuki masa panen menjadi penyebabnya.

Pada awal musim panen, antara bulan November – Desember 2018, harga gabah kering sawah Rp4.900/Kg. Kemudian turun jadi Rp4.300/Kg di pertengahan Februari 2019. 

“Sekarang tinggal 3.700 -3.800 rupiah per kilogramnya,” kata Kamidin, petani Dusun Templokorejo, Desa Gayam kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (16/3/2019).

Produksi padi sekarang ini cukup bagus. Tidak diserang hama. Satu hektar bisa menghasilkan gabah 8 ton lebih.

“Tapi sayang banyak yang roboh terkena angin dan hujan,” ucap Kamidin yang mengaku memiliki lahan seluas seper empat hektar dengan hasil produksi 2,2 ton.

Senada disampaikan Narto, petani Desa Begadon, Kecamatan Gayam. Ia mengaku, musim penghujan dan robohnya tanaman menjelang musim panen menjadi penyebab anjloknya harga gabah sekarang ini. 

“Kalau padinya roboh pasti gabahnya jelek dan harganya terjun bebas. Bisa 3.600 per kilogram,” sambungnya dikonfirmasi terpisah.

Baca Juga :   Sidak Pasar di Bogor, Wamendag: Harga Bapok Secara Umum Aman dan Stabil

Harga gabah di wilayah Gayam, menurut Narto, bervariatif. Gabah yang dirontokan secara manual Rp 3.600/kg, mesin blower Rp3.800, dan memakai combi Rp4.100. 

“Rata-rata langsung dibeli tengkulak. Yang dibawa pulang hanya sekitar 20%,” tutur bapak anak satu itu.

Baik Kamidin maupun Narto berharap pemerintah segera mengambil solusi untuk mengatasi terus merosotnya harga gabah. Harga sekarang ini belum ideal jika dibandingkan ongkos produksi. Mulai dari pembelian pupuk, obat-obatan dan ongkos pekerja. 

“Paling tidak per kilogram 4.000 lebih,” pungkas Narto.

Berdasarkan instruksi presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Bulog, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) Rp 3.700, dan  Rp 4.600 untuk Gabah Kering Giling (GKG). 

Namun hingga saat ini Bulog Subdivre III Bojonegoro belum melakukan pembelian gabah sekarang ini.  

“Informasi yang kami terima stok di gudang masih banyak,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro, Suharto saat menghadiri 12 tahun Sinau Bareng Ademos di Pendapa Malwopati, Jumat (15/3/2018) kemarin.(suko)

Baca Juga :   Tingkatkan Produksi, Pupuk Indonesia Uji Coba Pupuk Subsidi Organik Cair di Bojonegoro

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *