Rocky Gerung : Melarang Bicara Politik Nalarnya Kacau

Di Tuban Ditolak

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Ahli filsafat Rocky Gerung memprediksi jika 10 tahun kedepan masyarakat akan duduk dengan beberapa orang yang sebenarnya bukan manusia tapi robot karena adanya efisiensi tekhnologi.

“Oleh karena itu ada kecemasan di dunia ini akan dihuni oleh robot, karena perkembangan ilmu robotiks,” ujarnya saat mengisi Stadium General bertema “Membangun Nalar” di Aula At Taqwa Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (19/3/2019).

Rocky Gerung mencontohkan, dua bulan lalu di Ingris,  Parlemennya mengundang seorang robot. Lalu, bertanya pada robot bagaimana pendapatnya pada satu dekade kedepan pada kehidupan manusia. 

“Ini ditanyakan, karena parlemen cemas jika kedepan kebijakan akan dipegang oleh robot,” kata Rocky Gerung. 

Kemudian pertanyaan itu dijawab. Kata Rocky Gerung, robot cemas dan khawatir akan punah jika tidak belajar berempati dan peka terhadap keadilan sosial. Karena hanya manusia yang punya rasa itu.

“Kita cemas bahwa kemampuan kalkulasi otak manusia akan dikalahkan robot. Robot juga cemas kalau tidak bisa membagi rasa keadilan akan punah,” lanjutnya.

Baca Juga :   Diprogram Masyarakat Bisa Awasi Pembangunan Lewat HP

Dijelaskan, yang membagi rasa keadilan itulah urusannya politik. Sebab, hanya melalui politik keadilan didistribusikan.

“Itulah pentingnya politik. Karena  tergantung kebijakan yang akan dipilih. Jadi politik itu sinonim keadilan. Mereka yang melarang bicara politik menolak distribusi keadilan, itu nalar yang kacau,” tandasnya.

Oleh karena itu dirinya mendorong politik dibicarakan di kampus. Karena kampus yang punya metedeologi (cara) untuk memfilter mana proposal politik yang bagus dan buruk.

“Itu yang saya dorong supaya ada percakapan politik melalui forum forum akademis. Tetapi ajaibnya kekuasaan melarang orang bicara politik di kampus,” tegas pendiri Institut Setara itu.

Kampus adalah tempat menguji dalil, teori, proposal, dan semuanya dari para politisi. Jadi membangun nalar artinya mengembalikan fungsi kampus untuk memeriksa proposal politik.

“Misalnya di sini ada calon Presiden, calon Bupati, calon Gubernur, maka dia akan mempresentasikan caranya melihat keadilan dan yang di sini akan menguji standart akademis,” tuturnya.

Akal sehat butuh pembicaraan dua arah. Menurut dia tidak mungkin proposal politik diuji di atas panggung dangdut. Namun pada tahun politik dilarang bicara tentang politik. 

Baca Juga :   DPRD Bojonegoro Pertanyakan Pelunasan Kurang Bayar DBH Migas Rp532 Miliar

Seharusnya semua orang dimungkinkan bicara politik di tahun politik. Karena sebentar lagi, 30 hari kedepan, nasib bangsa akan ditentukan oleh siapa yang akan memimpin lima tahun kedepan. 

“Harusnya kita uji dulu pikirannya, aspek yang ditawarkan oleh publik melalui kampus,” pungkas pria yang pernah mengajar di Universitas Indonesia itu. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *