SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Sebagian petani ring 1 Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tahun ini gagal panen akibat dilanda banjir. Kerugian yang diderita mereka mencapai Rp10 juta.
Petani Desa Ngampel, Suyoto (40), mengaku, pasrah dengan kondisi alam yang tidak bersahabat dan merusak tanaman padi siap panen. Kerugian yang diperkirakan mencapai Rp10 juta, hanya bisa ditanggung dengan rasa ikhlas.
“Ya diikhlaskan, mau gimana lagi,” kata bapak satu anak.
Menurutnya, sawah seluas 5 hektar miliknya, belum ditanami kembali karena belum ada modal untuk membeli benih, pupuk, racun rumput, serta biaya produksi lainnya.
“Belum ditanami lagi, modalnya tidak ada,” katanya.
Meski sawah lain mulai ditanami pasca terendam banjir hingga dua pekan lebih, Yoto, sapaan akrabnya ini memilih membiarkan lahannya. Belum ada jalan keluar untuk memulai tanam.
“Ini masih putar otak cari uang untuk tanam lagi,” ujarnya.
Oleh karena itu, petani yang mengaku tidak mendapatkan Kartu Petani Mandiri (KPM) maupun bantuan jenis lainnya, lebih memilih bekerja buruh bangunan atau kuli untuk menyambung hidup.
“Siapa tahu bisa kumpul modal, untuk biaya tanam lagi,” lanjutnya.
Dirinya mengaku heran, dengan pemberian Kartu Pedagang Produktif (KPP) bukan Kartu Petani Mandiri (KPM). Sehingga, kartu tersebut disimpan tanpa tahu harus digunakan sebagaimana mestinya karena tidak ada niat berdagang.
“Dulu, saya dapatnya malah kartu pedagang bukan petani. Sekarangpun juga tidak dapat bantuan sama sekali,” ujarnya.
Dia mengaku, di Desa Ngampel, belum ada yang mendapatkan manfaat dari keberadaan KPM. Hanya, dari kabar yang beredar, ada beberapa yang didata melalui Kelompok Tani.
“Dengar-dengar, yang dapat KPM itu dari kelompok tani. Saya tidak tahu, siapa saja yang masuk kelompok tani,” tegasnya.
Senada diungkapkan Rasyid (45), petani asal Desa Bogo, Kecamatan Kapas, yang memiliki sawah di seputaran Pad B, Lapangan Sukowati. Akibat banjir melanda, terpaksa hanya mendapatkan 5 sak gabah yang biasanya menghasilkan 10 kuintal gabah sekali panen.
“Biasanya dapat 10 kuintal, ini cuma dapat lima sak aja,” tukasnya.
Dia mengaku, kerugian yang didapat mencapai belasan juta rupiah. Kartu Petani Mandiri (KPM) yang dipegangnya sampai sekarang belum ada tindak lanjut sama sekali.
“Semoga tidak sekedar janji, tapi juga dibuktikan,” ucapnya.
Kepala Desa Ngampel, Pujianto, mengatakan, belum ada progres dari program KPM yang menjadi andalan Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah. Meski, sudah ada pendataan melalui kelompok petani tapi belum tahu kelanjutannya.
“Saya belum dengar apa-apa, tapi memang sudah ada yang mendata. Dari kelompok tani kalau tidak salah. Tidak semua petani dapat, ada syaratnya itu,” pungkasnya.
Hingga berita diturunkan, Kepala Dinas Pertanian, Ahmad Djupari, belum memberikan jawaban. Pesan pendek yang dilayangkan belum ada jawaban. Begitupula dengan sambungan telephone Jumat (26/4/2019) lalu.(rien)