SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo)Â Bojonegoro, Jawa Timur, menyelenggarakan diskusi kemitraan bersama wartawan dengan tema peningkatan publikasi branding Bojonegoro melalui media online di lantai dua Gedung Pemkab setempat, Rabu (23/5/2019).Â
Kepala Dinas Kominfo Kusnandaka Tjatur, Kabag Humas Bojonegoro Heru Sugiarto, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Ninik Susmiati hadir dalam acara tersebut. Juga Perwakilan Komisi A DPRD Bojonegoro, Dony Bayu Setiawan.Â
Kepala Dinas Kominfo Bojonegoro, Kusnandaka Tjatur P, mengatakan pihaknya sekarang ini sedang melakukan analisa terkait apa saja yang bisa menjadi ikon Bojonegoro.
“Kita masih meraba-raba apa yang cocok menjadi ikon Bojonegoro,” ujarnya.
Untuk menentukan itu, dibutuhkan masukan dari media. Kata dia, Pemkab Bojonegoro saat ini mempopulerkan lagu yang berjudul “Pinarak Bojonegoro” untuk menarik minat para wisatawan luar daerah ataupun luar negeri agar berkunjung ke Kota Ledre-sebutan lain Bojonegoro.
Wartawan Rakyat independen, Sukisno, memberikan masukan. Menurutnya, sampai saat ini belum ada sesuatu yang khas dari Bojonegoro. Seperti di pintu masuk kota Bojonegoro sebelah timur di Kecamatan Baureno maupun sebelah barat di Margomulyo.Â
“Tidak ada semacam gapura selamat datang sebagai indentitas diri dari Bojonegoro,” timpalnya.Â
Pria berkumis lebat itu memberikan contoh gapura selamat datang di perbatasan Kecamatan Kapas dan Kecamatan Bojonegoro yang menuju pusat kota. Di situ tiap malam yang terlihat hanya banci banci yang selalu nampang.Â
“Masa kita dikenal kota banci karen amasuk kota banyak bancinya tiap malam,” sindirnya.
Padahal, tambah dia, Bojonegoro dikenal sebagai kota minyak dengan keberadaan Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Lapangan Sukowati, Blok Tuban, dan Lapangan Gas Jambaran Tiung Buru. Tapi sampai saat ini, tidak ada branding sama sekali.Â
“Sampai-sampai, ada pertanyaan Bojonegoro ini kota minyak atau kota menyok, ketela pohon,” pungkasnya.(rien)Â