SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora - Pemkab Blora, Jawa Tengah, menyiapkan lahan seluas 1.100 hektar (ha) untuk Kawasan Peruntukan Industri (KPI). Lokasinya di 14 titik yang tersebar di 11 kecamatan.
Pemkab Blora sekarang ini masih menunggu investor masuk untuk memfungsikan KPI.
Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora, Pujiarianto menjelaskan 14 kawasan itu diantaranya berada di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, dengan luas tanah 26,3 ha; Desa Sendangwates dan Gagakan, Kecamatan Kunduran, seluas 90,3 ha; Desa Adirejo, Kecamatan Tunjungan, seluas 383, 7 ha; serta Desa Nglagitan dan Gempolrejo, Kecamatan Tunjungan, seluas lahan 86, 2 ha.
Kemudian Desa Sitirejo, KecamatanTunjungan, dan Desa Sendangharj Kecamatan Blora, seluas 85,8 ha; Desa Plantungan, Kecamatan Blora, seluas 115,3 ha; Kelurahan Tempelmahbang, Kecamatan Jepon, seluas 77 ha, dan Desa Ngloroh, Gunung Kecamatan Jepon, seluas 9 ha.
Selanjutnya, Desa Sambongrejo, Desa Gadu, Desa Pojokwatu, Kecamatan Sambong, seluas 37,0 ha; Kelurahan Karangboyo, Kecamatan Cepu, seluas 6,4 ha; Kelurahan Cepu dan Ngelo, Kecamatan Cepu, seluas 18.7 ha; Desa Ngraho, kecamatan Kedungtuban, seluas 51 ha; Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, seluas 80,4 ha; dan Desa Randulawang, Kecamatan Jati, seluas 53,3 ha.
”Dari 14 lokasi KPI itu empat diantarnya masih kosong belum ada aktifitas industrialisasi,” ujarnya.
Selain telah menyiapkan lokasi KPI, Pemkab Blora juga mulai membuat masterplan kawasan industri di Kundruan untuk menarik minat investor.
Dalam masterplan yang ditunjukkan, terdapat bangunan-bangunan gudang dan tempat industri lainnya berdiri dalam satu kawasan.
Meski KPI sekarang ini sudah ada, bukan berarti dalam waktu dekat segera difungsikan. Namun menunggu adanya investor masuk.
“Kita harapkan dengan adanya gambar seperti di Kunduran itu bisa menarik investor,” tegas Puji, sapaan akrabnya.
Diakui, Pemkab Blora tidak memiliki kemampuan anggaran untuk membangun sendiri bangunan seperti di masterplan Kunduruan. Biaya untuk membangun infrastruktur di atas lahan seluas 90 ha itu dibutuhkan anggaran Rp680 miliar.
“Karena itulah kita menunggu investor,” ucapnya.
KPI yang disiapkan Pemkab Blora ini tidak untuk industri tertentu. Investor dipersilahkan memilih sendiri.
Dicontohkan, jika ada indutri semen, maka yang cocok adalah di Plantungan. Sebab akses ke pelabuhan Rembang lebih dekat.
Kemudian seperti di Randulawang yang saat ini menjadi pemasok jagung terbesar di Blora. Wilayah tersebut cocok untuk pabrik pengelolan pangan.
“Kita persilahkn investor memilih sesuai bisnis usaha yang akan dijalankan,” tandasnya.
Diungkapkan, kurang tertariknya investor masuk di Kabupaten Blora, salah satunya dikarenakan terkendala akses. Yakni jauh dari pelabuhan yang saat ini masih berada di Semarang.
Oleh karena itu, apalabila pelabuhan Rembang jadi, dipastikan memberikan dampak positif bagi Blora. Akan banyak investor masuk untuk mengembangkan usahanya.
“Karena aksesnya sudah dekat dengan pelabuhan di Rembang,” pungkasnya.(ams)