SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Aktivitas proyek Pengembangan Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB) kian meningkat. Namun proyek yang dioperatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), itu tidak mempengaruhi rutinitas para petani di wilayah Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Dari pantauan suarabanyuurip, sejumlah petani tetap menggarap sawah dan ladangnya. Mereka tidak mempedulikan aktivitas pekerja proyek gas yang direncanakan bakal berproduksi di tahun 2021 tersebut.
Sejak pagi hingga menjelang sore para petani itu pulang dari lahan pertaniannya. Mayoritas warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem ring 1 Lapangan Gas JTB adalah petani.
Petani setempat, Sutrisno mengaku, tidak begitu mengharapkan menjadi tenaga kerja di proyek Gas JTB. Ia tetap memilih menekuni pertanian untuk sumber penghasilan keluarganya.
“Ya mau bagaimana lagi, saya tidak punya keahlihan. Bisanya cuman tani,” katanya saat ditemui di ladangnya yang berada persis di dekat lokasi proyek Gas Processing Facility (GPF) JTB, beberapa waktu lalu.
Ia mengakui, bekerja sebagai petani tidak selalu beruntung. Semua tergantung dari hasil produksi pertanian.
“Tidak bisa dipastikan. Kadang turun, kadang naik,” ujarnya.
Diharapkan keberadaan sumur gas JTB tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi dapat meningkatkan pembangunan baik infrastruktur maupun perekonomian warga desa sekitar.
“Tentunya melalui program-progam kemasyarakatan dari perusahaan yang terlibat di proyek JTB,” sambung Jumadi, petani lainnya.(sam)