Produksi Blok Cepu Digenjot untuk Penuhi Target Minyak Nasional

DBH Migas Bojonegoro Diprediksi Lebih dari Rp2

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Peningkatan produksi minyak Banyu Urip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, hingga 225 ribu barel per hari (BPH), yang dilaksanakan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), untuk memenuhi target lifting nasional.

“Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah guna memaksimalkan produksi minyak mentah Banyu Urip,” kata Juru Bicara dan Humas EMCL, Rexy Mawardijaya,  menjawab konfirmasi yang dilayangkan suarabanyuurip.com pada Minggu (7/7/2019) kemarin. 

Dijelaskan, peningkatan produksi minyak Banyu Urip ini untuk membantu memenuhi kebutuhan energi Indonesia. 

“Sambil memastikan operasi yang aman dan dapat diandalkan,” tegasnya.

Sementara Kepala Bagian Humas SKK Migas Perwakilan Jawa,  Bali dan Nusa Tenggara (JabaNusa), Doni Ariyanto, menegaskan, peningkatan produksi minyak Banyu Urip yang mencapai 225 ribu bph sekarang ini untuk memenuhi target lifting minyak nasional sebesar 775 ribu bph. Sehingga produksi terus digenjot di atas rencana pengembangan (plan of development/PoD) sebesar 165 ribu Bph.

“Itu tidak mengacu ke DPRD Bojonegoro, melainkan ke DPR RI. Karena kesepakatan target lifting kita dengan pusat,” tegas Doni, sapaan akrabnya.

Baca Juga :   Pertamina Klaim Sudah Laporkan Minyak Tapen

Menurutnya, Indonesia sekarang ini krisis penemuan cadangan minyak besar. Sebagai andalan untuk memenuhi target lifting nasional yang sudah ditetapkan hanya dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu.

“Saat ini kita masih krisis dalam penemuan giant discovery untuk minyak,” imbuhnya.

Peningkatan produksi minyak Banyu Urip ini juga untuk mengurangi beban impor yang harus ditanggung negara. Karena antara jumlah minyak yang diproduksi masih di bawah kebutuhan energi nasional.

“Walaupun itu ada resiko penurunan DBH Migas. Tapi ini untuk kepentingan nasional,” pungkasnya. 

Sebelumnya, DPRD Bojonegoro menganggap produksi puncak minyak Banyu Urip terkesan dipaksakan. Peningkatan produksi ini bisa berdampak pada usia produksi dan penerimaan dana bagi hasil (DBH) Migas bagi Bojonegoro.

“Jika minyaknya cepat habis, DBH Migas yang akan diterima juga akan berkurang,” ujar Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Sukur Priyanto, Minggu (7/7/2019).  





»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *