SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kerusakan lingkungan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur, mulai mengkhawatirkan dengan banyaknya kegiatan penambang pasir liar dan pemanfaatan air ilegal.Â
Hal ini membuat operator Lapangan Sukowati, Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field menggelar sosialisasi program peduli lingkungan dan kelestarian sungai Bengawan Solo di Balai Desa Semanding, Kecamatan Bojonegoro, pada Selasa (22/10/2019).Â
Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro dan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam) Bojonegoro dan Forkompimcam Soko Kabupaten Tuban.Â
Kepala DLH, Nurul Azizah, mengungkapkan, beberapa waktu lalu, terjadi pencemaran lingkungan di Bengawan Solo dikarenakan adanya limbah pabrik industri batik yang berasal dari hulu sungai.Â
“Kami sudah berkirim surat ke DLH Provinsi agar bisa memberikan teguran dan sanksi pada pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah dan mencemari sungai,” tandas wanita berhijab ini.Â
Dengan adanya limbah dari produksi batik tersebut, membuat air sungai menjadi keruh dan berwarna hitam kecokelatan. Sehingga, tentu saja memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.Â
“Mau tidak mau, kita harus punya kewajiban untuk mengelola lingkungan,” tegas pejabat yang mencalonkan diri menjadi Sekda Bojonegoro ini.
Tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan di Bengawan Solo saja, tetapi KKKS juga diharapkan komitmen pada penghijauan di sekitar industri migas sesuai program Bupati Anna Mu’awanah yang mentarget 500 ribu pohon dalam jangka waktu lima tahun.Â
Legal and Relations Asistan Manager Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field, Jason W Purba, mengungkapkan, Bengawan Solo sebagai sungai yang terpanjang di pulang Jawa, melewati 16 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur tentunya menghidupi kepentingan orang banyak.Â
“Tidak hanya itu, aneka ragam hayati yang terdapat di dalamnya pun menjadi kesatuan dari sungai bengawan solo,” tandas Jason, sapaan akrabnya.
Untuk itu, sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestariannya sehingga selain menyelamatkan terjadinya abrasi dan longsor, juga menjaga biota sungai seperti ikan air tawar.Â
“Kalau tercemar, kita tidak bisa makan ikan wader lo,” ujarnya bercanda. (rien).Â