Pengusaha Lokal Butuh Dukungan Politik untuk Terlibat di Proyek Migas

Pengusaha Lokal Butuh Dukungan Politik untuk Terlibat di Proyek Migas

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

 Bojonegoro - Ketua Bidang Agribisnis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat, Ali Dupa mengapresiasi diskusi dan silaturahmi yang melibatkan kontraktor lokal sekitar Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Menurutnya, kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk saling kenal, bertukar informasi dan berbagi pengalaman guna memecahkan setiap permasalahan tentang usaha di Bojonegoro. 

“Saya yakin yang hadiri di sini memiliki talenta, visi dan misi yang sama untuk membangun daerah,” ujarnya membuka perbincangan saat diskusi di salah satu rumah makan di Jalan Panglima Soedirman, Senin (11/11/2019). 

Berlangsungnya industri migas di Kabupaten Bojonegoro sekarang ini, lanjut dia, membuk peluang usaha bagi pelaku usaha lokal. Namun begitu, setiap bisnis termasuk di industri migas terdapat aturan-aturan yang harus diikuti oleh pelaku usaha. 

“Oleh karena itu pelaku usaha harus profesional dan memenuhi standart yang dibutuhkan,” tegas suami Bupati Bojonegoro, Anna Muawanah itu.

Silaturahmi dan diskusi berlangsung dinamis. Banyak persoalan yang disampaikan pelaku usaha sekitar industri migas. Diantaranya belum terlibatnya pengusaha dan tenaga kerja lokal secara maksimal di proyek migas seperti yang diamanatkan Peraturan Daerah (Perda) No23/2011 tentang percepatan pertumbuhan ekononomi dalam pelaksanaan eksplorasi dan eskploitasi serta pengolahan minyak dan gas bumi, atau biasa disebut Perda Konten Lokal. 

Baca Juga :   JOBP-PEJ Diminta Segera Susun Andalalin

Direktur Utama PT Gayam Asri Manunggal (GAM), Sumber Purnomo, mengungkapkan, proyek Gas Jambaran-Tiung Biru atau JTB yang berlangsung sekarang ini, berbeda dengan proyek Banyu Urip. Kontraktor lokal terdampak banyak yang tidak bisa ikut langsung tender. Tapi harus menjadi subkontraktor yang memenangkan tender di PT Rekayasa Industri.

“Padahal kalau nge-sub harganya pasti turun jauh. Ini beda dengan Tripatra dulu, kita bisa langsung ikut tender, karene pekerjaannya dipecah-pecah menjadi beberapa paket,” ujar Pak Ed, sapaan akrabnya.

Senada disampaikan, Direktur Utama PT. Unggul Setia Persada (USP), Yudha Alamsyah. Ia mengungkapkan, belum terlibatnya kontraktor lokal secara maksimal di proyek migas karena lemahnya akses informasi tentang pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) atau operator migas yang beroperasi di Bojonegoro. 

Ia mencontohkan, seperti pekerjaan maintenance atau perawatan di Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, pascaproyek engineering, procourement and construction (EPC). Seharusnya, kata dia, akses informasi pekerjaan tersebut dapat diperoleh BUMD Bojonegoro, PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) karena memiliki saham di Participating Interest (PI).

Baca Juga :   Truk Pengangkut Limbah Dihentikan Warga

“ADS harusnya bisa mengakses informasi dari work program and bugeting atau WP&B yang diajukan operator ke SKK Migas,” tandas mantan Karyawan ExxonMobil Cepu Limited itu.

Untuk itu, dirinya menegaskan perlu adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan agar keterlibatan konten lokal di industri migas Bojonegoro bisa maksimal. Apalagi sekarang ini sedang berlangsung mega proyek Gas JTB, dan direncanakan pengembangan Lapangan Pad C Sukowati.

“Ibaratnya, kuenya sudah ada. Akses belum ada. Akses ini perlu kekuatan politik lokal,” pungkasnya.(suko) 











»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *