SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU SDA) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, mengungkapkan, sekarang ini debit air sungai Bengawan Solo menurun. Tentu membuat suplai air untuk produksi Lapangan Migas Banyu Urip, Blok Cepu, terganggu.Â
“Hal ini tentu mempengaruhi produksi Lapangan Banyu Urip, yang terancam tidak mendapatkan suplai air,” kata Kepala DPU SDA, Tedjo Sukmono, saat rapat Badan Anggaran (Banggar) di Ruang Paripurna DPRD setempat, Senin (25/11/2019).
Dengan kondisi menurunnya debit air sungai Bengawan Solo, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) terancam tidak bisa melakukan aktivitas pengeboran yang berpusat di Kecamatan Gayam.
“Jadi, kalau air Sungai Bengawan Solo ini menurun bisa-bisa aktivitas pengeboran terganggu dan mampu mempengaruhi produksi minyak,” tukasnya.
Oleh sebab itu, pihaknya terus melakukan koordinasi untuk rencana pembangunan Bendung Gerak Karangnongko, yang rencananya akan dilakukan pada 2020 mendatang.
Bendung Gerak Karangnongko yang berada di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojoengoro, dan berseberangan dengan Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ini direncanakan sebagai infrastruktur kebutuhan irigasi air dan kebutuhan air baku untuk rumah tangga, kota dan Industri termasuk Blok Cepu.
Juri bicara dan humas EMCL, Rexy Mawardijaya, mengatakan, dalam pemanfaatan air Sungai Bengawan Solo mengikuti aturan yang berlaku.
“EMCL mengikuti aturan terkait pemanfaatan air sungai Bengawan Solo untuk kebutuhan proses produksi,” pungkasnya.(rien)