SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menyebutkan, hasil lifting kumulatif 9 bulan dari Januari sampai dengan September 2019 baru mencapai 74 persen.
“Itu hasil rekonsiliasi kami pada bulan November lalu dengan Pemerintah Pusat,” kata Kepala Bapenda Bojonegoro, Ibnoe Soeyoeti, Rabu (11/12/2019).
Data yang didapat dari Dirjen Migas menyebutkan, sesuai prognosa lifting Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2019, target lifting minyak di Bojonegoro adalah 81.802.000.19 barel.
“Sementara kumulatif sampai dengan September baru tercapai 61.606.664.82 barel,” imbuhnya.
Jumlah tersebut didapatkan dari produksi minyak yang dihasilkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) diantaranya Pertamina EP Asset 4 yang menghasilkan dari Cepu Field, Mudi, dan Tiung Biru sebesar 2.635.618.82 barel, dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dari Lapangan Banyu Urip sebesar 58.971.046.00 barel.
“Sedangkan minyak dari Lapangan Sukowati oleh PT PHE Tuban East Java liftingnya nol,” tandas Ibnoe.
Menurutnya, data tersebut didapatkan secara utuh dari Pemerintah Pusat. Meski, sebelum dirinya menjabat, Bapenda pernah menghitung sendiri besaran lifting minyak.
“Ini saya sedang mengkonfirmasi lagi semua staf, masih melakukan penghitungan sendiri atau tidak,” tukasnya.
Penghitungan lifting oleh Bapenda dilakukan dengan mendapatkan data produksi setiap bulannya dari masing-masing K3S termasuk EMCL. Dari perhitungan tersebut, biasanya akan disingkronkan dengan data dari pusat.
“Karena stafnya banyak yang ganti, maka kami akan menyesuaikan lagi,” pungkasnya.(rien)