SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Puncak konstruksi proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Engineering, Procurement and Cosntructions – Gas Processing Facility/EPC-GPF) Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, diperkirakan berlangsung pada Juni 2020. Jumlah tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 6.000 orang.
Proyek EPC-GPF JTB dikerjakan oleh Konsorsium PT Rekayasa Industri – Japan Gas Corporation Indonesia – Japan Gas Corporation (RJJ), kontraktor Pertamina EP Cepu.
“6.000 tenaga kerja itu akan bertahan delapan sampai dua belas bulan. Karena pekerjaan akan banyak di piping atau pemipaan, technical dan electrical,†ujar Site Manajer PT Rekind, Zainal Arifin usai rapat koordinasi monitoring dan evaluasi pengamanan project gas JTB bersama aparat TNI/Polri dan media di Hotel Aston Bojonegoro, Kamis (19/12/2019).
Dijelaskan, peningkatkan jumlah penyerapan tenaga kerja ini akan berlangsung mulai Januari 2020. Jumlahnya diperkirakan akan mencapai hampir 3.000.
“Tahun depan jumlah tenaga kerja akan naik 500 orang setiap bulan sampai masa puncak konstruksi,†tegas Zainal, sapaan akrabnya.
Pekerjaan EPC hingga November 2019 telah mencapai 43%. Sedangkan pekerjaan konstruksi yang ada di Bojonegoro mencapai 17,43% dari target 17,42%, dan di akhir Desember tahun ini ditergetkan bisa 19,6%.
“Pekerjaan konstruksi ini kita mulai Juni 2018 lalu,†ucapnya.
Hingga November lalu penyerapan tenaga kerja mencapai 2.338 orang baik tenaga unskill, semiskill dan skill. Dari jumlah tersebut, 1.608 orang atau 69% adalah pekerja lokal Bojonegoro. Sedangkan 730 orang atau 31% merupakan non lokal atau luar Bojonegoro.
Semua jumlah tenaga kerja tersebut dilaporkan PT Rekind secara rutin kepada Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro.
“Yang aktif di lapangan hingga saat ini ada 2.400 tenaga kerja. Dari jumlah itu 69% dari lokal, dan 31%  lokal dari non lokal,†tuturnya.
Tenaga kerja lokal yang terlibat tersebut, lanjut Zainal, berasal dari116 desa di Bojonegoro. Bukan hanya lima kecamatan terdampak langsung yakni Kecamatan Ngasem, Gayam, Kalitidu, Tambakrejo, dan Purwosari. Â
“Selain memprioritaskan lima wilayah terdampak, kita juga membuka kesempatan bagi masyarakat di wilayah lain di Bojonegoro,†tandas almuni ITS Surabaya.
Prekrutan tenaga kerja sekarang ini menggunakan komposisi 60 % dari lokal Bojonegoro, dan 40 % non lokal. Komposisi tersebut akan bergeser sesuai pekerjaan yang berlangsung. Karena kedepan diperlukan tenaga skill dari luar daerah yang lebih mumpuni.
“Kemarin kontraktor kami, PT YIN melalui Disnaker membutuhkan 10 walder atau tenaga las sesuai sertifikasi yang kami tentukan, tapi hanya mendapatkan empat orang. Sehingga lainnya diambilkan dari luar Bojonegoro,†ungkapnya.
“Namun begitu, kita tetap memprioritaskan warga Bojonegoro. Jika memang sudah tidak ada baru kita ambil dari luar daerah,†lanjut Zainal.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pengembangan dan Penempatan Tenaga Kerja Disperinaker Bojonegoro, Joko Santoso, mebenarkan jika Rekind melaporkan jumlah tenaga kerja secara rutin.
“Kalau Rekind laporannya rutin tiap awal bulan,†tegas Joko Santoso.(suko)