Fasilitas Pemrosesan Gas JTB Didesain Tahan Gempa

Fasilitas Pemrosesan Gas JTB Didesain Tahan Gempa

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Engineering, Procurement and Construction – Gas Processing Facility/EPC-GPF) Jambaran-Tiung Biru (JTB), di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, didesain tahan gempa. Termasuk landasan dan area absorber- tangki fasilitas pemrosesan gas- setinggi 60 meter.

Pipe rack ini bisa tahan gempa. Jadi ada spring-nya. Jika ada gempa dia akan naik,” ujar Site Manager PT Rekayasa Industri, Zainal Arifin kepada suarabanyuurip.com, Jumat (20/12/2019).

Ditegaskan, setiap perhitungan oleh engineering sudah dimasukkan faktor gempa bumi.

“Sehingga jika terjadi gempa bangunan akan Bertahan sesuai fungsinya,” tandasnya.

Proyek pengembangan Gas JTB dilaksanakan di lahan seluas 140 hektar (ha), yang sebagian besar adalah lahan Perhutani.

    Proyek Gas JTB lebih ekonomis dari penghitungan awal. Pada Agustus 2015 nilai investasi mencapai US $2,056 miliar, kemudian dilakukan optimalisasi Capex bulan Desember 2016 menjadi US$ 1797 miliar, dan terakhir senilai US$1,547 miliar, atau da penghematan sebesar US$ 500 juta. Proyek ditarget selesai Juni 2021.  

Baca Juga :   PPSDM Lirik Produksi Minyak Pertamina

Wilayah proyek Gas JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, menjadi salah satu wilayah potensi gempa di Kabupaten Bojonegoro.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, wilayah proyek gas JTB masuk dalam potensi gempa bumi. Ada 17 desa di Kecamatan Ngasem yang dinyatakan memiliki potensi gempa, salah satunya Desa Bandungrejo. 

“Tingkat klasifikasinya rendah. Tapi begitu harus tetap diwaspadai,” ujar Sekretaris BPBD Bojonegoro, Nadif Ulfia dikonfirmasi sebelumnya. 

Dijelaskan, data potensi gempa bumi di Bojonegoro tersebut berdasarkan dokumen kajian risiko bencana yang dikeluarkan Badan Penanggunalangan Bencana Nasional (BPBN) awal 2018. Penyebabnya, sejumlah wilayah di Bojonegoro dilewati dua sesar di zona Kendeng dan zona Rembang dan menjadikan wilayah tersebut rawan gempa.

Untuk diketahui, ada enam sumur di Lapangan Gas JTB yang sedang dilakukan pengboran secara bertahap. Awalnya, proyek ini dirancang untuk menghasilkan penjualan gas (sales gas) sebesar 172 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/ MMSCFD). Setelah dilakukan optimasi engineering dapat menghasilkan sales gas (gas siap jual) sebesar 192 MMscfd, atau meningkat 20 MMscfd.

Baca Juga :   Kontribusi Elnusa Sokong Kesuksesan Temuan Sumur Migas Kolibri

Cadangan gas JTB sebanyak 2,5 triliun kaki kubik (TCF) yang akan diproduksi 25 tahun. Dari produksi gas sebesar 192 MMscfd, sebanyak 100 MMSCFD dibeli Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan harga US$ 7,6/MMBTU. Sedangkan sisanya akan dijual Pertamina untuk memenuhu kebutuhan industri di wilayah Jatim dan Jateng.(suko) 


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *