Poros Gayam-Ngasem Penuh Kubangan Kerbau

Jalan menuju JTB penuh kubangan kerbau

SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko

Bojonegoro – Kerusakan jalan poros Kecamatan Gayam ke Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kini kondisinya semakin parah. Sepanjang badan jalan mulai dekat pertigaan Dusun Gledegan, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, ke Selatan menuju pertigaan Sawit, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, kurang lebih enam kilo meter tersebut penuh kubangan kerbau.

Padahal kerusakan jalan yang juga sebagai akses utama menuju lokasi Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) tersebut sudah lama dikeluhkan warga sekitar, dan juga telah didengar oleh wakil rakyat. Namun hingga saat ini belum ada tindakan secara nyata untuk dilakukan perbaikan.

Sehingga membuat pengguna khususnya roda dua sangat terganggu, takut terjatuh karena banyak kubangan terisi air. Hanya pengguna roda empat, baik kendaraan proyek maupun pribadi saja yang masih nyaman untuk melewati, meski lajunya pelan.

“Mulai Gledegan sampai Sawit penuh dengan kubangan kerbau. Selain itu juga licin, jadi perlu hati hati untuk pengendara roda dua agar tidak terjatuh. Hanya pengendara roda empat saja yang nyaman melewati,” kata Suradi, salah satu pengendara sepeda motor saat melewati jalan tersebut kepada Suarabanyuurip.com, Senin (06/01/2020).

Baca Juga :   Bupati Djoko Nugroho Lantik 125 Kades Baru

Warga Ngasem tersebut berharap, pihak terkait untuk segera melakukan perbaikan agar arus lalu lintas lancar.

“Saya tidak menyalahkan siapapun, tapi bagi yang merasa punya andil dalam kebijakan setidaknya bisa ikut mendorong agar segera dibangun,” imbuhnya. 

Ketika disinggung jalan tersebut sulit dilakukan pembangunan karena masuk wilayah hutan dan butuh proses panjang. Pria kurus ini menjelaskan, Bojonegoro jalur porosnya mayoritas adalah masuk wilayah hutan. Salah satu contohnya, Ngasem-Dander, Ngasem-Ngambon, Ngasem-Sekar, Ngasem-Bubulan, Ngambon-Tambakrejo, Bubulan-Temayang dan seterusnya semuanya juga bisa dilakukan pembangunan secara bagus. Bahkan sekarang sudah ada yang dibangun dengan cor.

Jadi jika hanya beralasan karena masuk wilayah hutan dan sulit dilakukan pembangunan mestinya kurang pas. Karena jika pemerintah yang membangun dan dilakukan perundingan dengan baik tentunya tidak akan sulit.

“Intinya mau tidak itu saja. Kami sebagai rakyat kecil hanya bisa pasrah dan berharap saja, Mas. Selanjutnya silahkan pihak berwenang yang menentukan,” sambung Susilo pengguna jalan lainnya.

Di beritakan sebelumnya, salah satu perangkat Desa Bandungrejo, Suyono mengeluhkan, jalan mulai Gledegan sampai pertigaan Sawit arah Ngasem sudah parah, disepanjang badan jalan banyak yang berlubang membahayakan pengguna.

Baca Juga :   PMII Bojonegoro Gelar Konfercab ke XXVII di Ponpes Darussalam

Pria yang karib di sapa Mbah Yo ini menduga, rusaknya jalan tersebut akibat banyaknya kendaraan berat proyek yang menggunakan. Sehingga beskosnya habis tidak merata membentuk kubangan kerbau.

“Kalau hujan licin ditambah tanah menyumpal roda kendaraan utamanya sepeda motor yang membuat pengguna terganggu. Khususnya petani sekitar yang pulang dari aktivitas bertani,” tuturnya.

“Paling tidak diratakan lagi dengan beskos, sukur-sukur di bangun dengan hotmix langsung malah bagus,” imbuhnya.

Sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, meminta komitmen Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru, Pertamina EP Cepu dalam meningkatkan infrastruktur jalan disepanjang jalan utama menuju proyek di Desa Bandungrejo.

“Ini ada laporan warga yang mengeluhkan kondisi jalan rusak mulai dari pertigaan Dusun Gledegan, Desa Mojodelik sampai pintu masuk Desa Bandungrejo,” kata Ketua Komisi D, Abdullah Umar.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *