SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora –Â Penyebaran virus corona hingga ke sejumlah negara berdampak pada penurunan harga minyak dunia. Tren harga minyak melemah dalam empat pekan berturut-turut karena meningkatnya kekhawatiran pelemahan ekonomi akibat penyebaran virus corona.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret merosot 13 sen menjadi US$58,16 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun 58 sen ke level US$50,97 per barel.
Melemahnya harga minyak mentah dunia tersebut diprediksi berdampak pada penurunan ongkos angkat angkut minyak sumur tua yang diterima penambang di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Perkumpulan Penambang Minyak Sumur Timba (PPMST).
Penambang sumur minyak tradisional di Kabupaten Blora bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT Blora Patra Energi (BPE) sebagai pemegang izin kelola.
Penegawas Produksi PPMST Desa Ledok, Kecamatan Sambong, Suprihantono, menjelaskan, ongkos angkat angkut untuk bulan Maret nanti diprediksi mengalami penurunan cukup drastis karena adanya penurunan harga minyak dunia, yang berpengaruh terhadap penurunan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).Â
Pada bulan Desember 2019, rata-rata ICP menyentuh angkat US$67,18 per barel. Semenjak serangan Virus Corona yang berasal dari Wuhan, Cina,  membuat harga minyak terperosok pada akhir Januari 2020 kemarin.
“Untuk rata-rata ICP bulan Januari 2020 belum ada iinformasi. Namun, harga minyak dunia pada akhir Januari 2020 menyentuh US$51,†kata dia, Selasa (4/2/2020).Â
Jika kondisi ini tidak segera teratasi, tentunya berakibat buruk pada harga minyak mentah Indonesia.Â
“Ongkos angkat angkut dari yang dibayarkan Pertamina kepada Perkumpulan penambang atau BUMD, pastinya akan turun drastis,†jelasnya.
Untuk bulan Januari 2020, ongkos angkat angkut yang dibayarkan Pertamina kepada BUMD sebesar Rp3.868,61 perliter. Setelah dikurangi beberapa komponen, penambang menerima Rp2.846,54 per liter.Â
“Jika harga minyak dunia bertahan pada angka US$51 per barel atau bahkan lebih buruk, tentunya pendapatan penambang juga akan lebih sedikit,†tandasnya.(ams)