SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Warga positif virus corona atau Covid-19 di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akhirnya diungkapan oleh Dinas Kesehatan Bojonegoro, Jumat (10/4/2020).Â
Berdasarkan sembilan tes SWAB yang dikirim Dinas Kesehatan Bojonegoro ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Jakarta, terdapat 1 orang yang dinyatakan positif.
“Yang positif dari Kecamatan Balen, dan sudah meninggal akhir Maret lalu. Informasi hasil Swabnya baru kita dapat Kamis malam,” tegas Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, dr.Wheny Dyah, Jumat (10/4/2020).
Warga Balen ini sebelumnya dinyatakan pasien dalam pengawasan (PDP) setelah mengalami gejala klinis menyerupai Corona. Kemudian menjalani perawatan intensif dan khusus di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Sosodoro Djatikoesomo pada Jumat (26/3/2020). Namun warga yang sehari-hari berdinas di Surabaya itu kemudian meninggal Sabtu (28/3/2020), akibat gagal nafas.
Kepastian hasil Swab warga Balen positif corona ini sekaligus membantah kabar yang bertebaran di media sosial (Medsos) tentang seorang PDP asal Kecamatan Gondang yang sekarang ini sedang menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Sosodoro Djatikoesoemo.
Berikut isi kabar hoaxs di medsos : ,” Bjn zona merah sdh dikonfirmasi bu ana semalam jam 8 bahwa sdh ada yg positif korona, wong e iku wartawan dari Surabaya pulang ke bojonegoro, tenyata orang itu di sby sdh dikarantina dan melarikan diri pulang kampung, sampai rumah dia gak cerita kalau sdh positif korona, malah keliling cangkrukan ngopi nok warung. Akhir e saiki ada 20 orang dikarantina sing berhasil dilacak pernah ada kontak dengan pasien, salah satunya rumah e Mojoranu tukang ojek (nama k ami hilangkan). *Nama pasien… (kami hilangkan) Bila mana dulor” ada yg pernah berkomunikasi atau kontak lngsng dg nama atau orang d atas mohon kiranya memeriksakan kesehatannya, swon lor”.
Kabar hoaxs itupun dibantah keras istri PDP asal Gondang. Ditegaskan, jika suaminya tidak pernah di karantina di Surabaya. Sehingga informasi yang beredar di media sosial tersebut tidak benar.
“Sama sekali informasi itu tidak benar. Apalagi ditambah-tambahi kabur dari karantina. Itu bohong besar, dan sudah mencemarkan nama baik,” ujarnya saat diwawancarai wartawan duta.co dalam rekaman suara yang diterima suarabanyuurip.
Ia menjelaskan, pada Selasa 31 Maret, dua hari setelah mengantarkannya ke Gondang, suaminya kembali ke Surabaya dan mengabakarkan jika mengalami sakit batuk dan sesak. Kemudian disarankan untuk membeli obat di apotek.Â
Namun, lanjut dia, suaminya kembali memberi kabar jika sudah beberapa hari minum obat tapi tidak sembuh. Kemudian suamianya disarankan untuk pulang ke Gondang.
“Pada Sabtu tanggal 4 April 2020, suami saya pulang ke rumah Gondang. Saya kira sakit biasa, saya rawat dua hari di rumah. Kemudian hari Senin tanggal 6 April saya ke Puskesmas memeriksakan suami. Dua hari minum obat kok nggak sembuh, saya konsultasi ke mantri kesehatan Puskesmas, dan disarankan untuk dibawa ke RSUD Sosodoro Bojonegoro. Akhirnya Selasa malam saya bawa ke Bojonegoro. Sampai di RSUD langsung masuk IGD. Setelah dilakukan tes langsung dibawa ke ruang isolasi,” tuturnya.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bojonegoro, Masirin mengimbau kepada masyarakat untuk cerdas dalam bermedsos terlebih dalam situasi pandemi corona seperti ini.
“Hindari melakukan sharing informasi yang belum tentu jelas kebenarannya yang justru memunculkan keresahan di masyarakat. Jangan menyebarluaskan data dan informasi tentang status pasien,” pesannya. Â
Masirin juga meminta kepada seluruh warga yang pernah dari zona merah agar melakukan isolasi secara mandiri dan melaporkan kepada aparat desa setempat.
Sementara itu, berdasarkan dari grafik harian pemantauan Covid – 19 Kabupaten Bojonegoro per 10 April, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Bojonegoro sebanyak 47 orang yang tersebar di 28 kecamatan. Penambahan ODP baru sebanyak 2 orang di Kecamatan Dander dan Kapas. Sedangkan ODP yang telah selesai dalam pemantauan dinyatakan sehat secara kumulatif sebanyak 66 orang.
ODP terbanyak di Kecamatan Dander 10 orang, disusul Kecamatan Padangan 5 orang, Malo 4 orang, Kapas dan Temayang masing-masing 3 orang.(suko)