SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Semakin hari semakin bertambah meluasnya penyebaran virus corona atau covid-19 di Indonesia membuat pemerintah berupaya dengan berbagai langkah dalam pencegahan agar virus corona yang masuk di Indonesia sejak awal Bulan Maret tersebut tidak semakin meraja lela.
Mulai dari himbauan agar warga memakai masker, tidak bergerombol, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun, penyemprotan disinfektan sampai penerapan tetap di rumah saja hingga saat ini masih belum ada tanda-tanda bahwa pagebluk yang telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) ini selesai.
Dampak pandemi covid-19 sangat dirasakan olah masyarakat, utamanya adalah menurun drastisnya perekonomian.
Sejumlah tempat perbelanjaan, warung kopi, warung makanan dan lain sebagainya yang semula ramai kini sepi pengunjung. Kondisi ini membuat sejumlah usaha kecil mengaku merugi karena wabah virus corona di dalam negeri.
Kerugian ini dirasakan oleh salah satu penjual Es Buah, Mursidik, yang berada di sekitar Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) tepatnya dekat perempatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
“Dampak corona ini sangat luar biasa perekonomian turun drastis. Berat kalau kondisinya seperti ini terus, pembeli sepi banget, Mas,” kata Mursidik, kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (21/4/2020).
Warga Desa Butoh, Kecamatan Ngasem ini, mengungkapkan, sejak adanya virus corona masuk awal Bulan Maret lalu penjualan Es Buah yang seporsi dihargai 4.000 rupiah ini semula mampu meraup hasil menjanjikan kini terus mengalami penurunan.
“Sebelum ada corona biasanya maksimal sehari mendapatkan hasil Rp600.000. Sekarang semakin merosot tinggal Rp180.000 atau turun 70 persen. Itu belum kepotong modal,” terangnya.
Lebih tragis lagi, kata Mursidik, adanya kenaikan harga bahan baku berupa gula yang semula hanya Rp12.000/Kg naik menjadi Rp18.000/Kg. Hal ini semakin menambah menjerit bagi usaha kecil seperti yang dijalankan.
“Jika kondisi ini tidak segera teratasi tentunya terancam tak mampu lagi berjualan alias gulung tikar,” keluhnya.
Pria bertubuh jangkung ini berharap, pemerintah segera mengambil langkah agar perekonomian masyarakat tetap terjaga stabil. Selain itu rencana pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) pandemi covid-19 yang akan dikucurkan pemerintah juga tidak tebang pilih.
Mengingat BLT tersebut bukan karena faktor adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), tetapi akibat pagebluk corona. Jadi dampak yang merasakah adalah semua masyarakat.
“Jadi pihak terkait harus bijak mampu memahami dan membedakan, ini dampak kenaikan BBM atau dampak pagebluk. Harapan kami bagi usaha kecil yang terus merugi akibat pagebluk corona juga diperhatikan,” saranya.
Senada diungkapkan Jupri, pemilik warung kopi dan makanan ringan tak jauh dari lokasi proyek Gas JTB. Dia mengaku, omset penjualan makanan dan minuman ringan juga mengalami penurunan. Kendati aktivitas jualan tetap terus dilakukan tentunya dengan mematuhi himbauan pemerintah.
“Demi menyambung hidup berjualan terus kami lakukan. Semoga wabah corona ini segera hilang, sehingga bisa berjualan bebas seperti sedia kala,” sambung Jupri.(sam)