Asosiasi Alumni MSU Gelar Talkshow Pandemi Corona dan Dampak Perekonomian

20089

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Jakarta – Asosiasi Alumni Michigan State University (MSU) di Indonesia selenggarakan talkshow kedua mengenai Pandemi Virus Corona atau COVID-19 pada hari Jumat, 1 Mei 2020, pukul 19.00 – 21.45 WIB via Zoom Virtual Meeting yang dibuka secara umum dan diikuti lebih dari 50 orang peserta.

Talkshow tersebut terbagi atas dua sesi acara, yaitu sesi pertama membahas, “Mengenal Lebih Jauh Tentang Pandemi COVID-19,” dan sesi kedua membahas, “Prediksi Dampak COVID-19 terhadap Perekonomian Nasional dan Masyarakat di Pedesaan.”

Secara kronologis COVID-19 diawali dengan Pemerintah China yang memberikan notifikasi ke World Health Organization (WHO) tentang adanya wabah corona pada 31 Desember 2019, kemudian diikuti dengan laporan kematian pertama (pria berumur 60 tahun) pada tanggal 11 Januari 2020. Kemudian wabah menyebar ke berbagai negara. Wabah virus corona kemudian telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO pada 12 Maret 2020.

Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Madura pada jaman kolonial Belanda – pernah mengalami Pandemi Influenza yaitu pada tahun 1918 – 1919. Pandemi tersebut merupakan pandemi berdurasi pendek dan paling mematikan pada abad ke 20.

Bagi Indonesia, estimasi korban yang banyak dicatat dalam berbagai publikasi adalah 1.5 juta kematian. Prof. Dr. Siddharth Chandra, B.A., A.M. dalam publikasinya tahun 2011 menyatakan, mengenai jumlah kematian yang sebenarnya bisa jauh lebih besar dari angka tersebut.

Menyadari bahaya dari pandemi ini, Asosiasi Alumni MSU mengundang para pakar dalam talkshow kedua untuk membahas sejarah, pemahaman apa itu pandemi dan macam-macamnya, bagaimana mencegah dan mengatasinya dengan mengundang Prof. Dr. Siddharth Chandra, B.A., A.M. dari MSU dan narasumber dalam negeri yang memahami pandemi secara umum.

Dari in-house experts diharapkan mendapatkan gambaran dampak dan perspektif ekonomi bagi kita di Indonesia.

“Tujuan acara ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dalam upaya pencegahan dan penanggulangan COVID-19, serta menganalisa dampak pandemi COVID-19 dalam perspektif pembangunan ekonomi Indonesia,” kata Presiden Asosiasi Alumni MSU, Co-Founder IE2I, dan Ketua Bidang ESDM Rumah Millennials, Satya Hangga Yudha Widya Putra, B.A. (Hons), MSc kepada Suarabanyuurip.com, Minggu (3/5/2020).

Menurutnya, Indonesia sekarang sedang berada di tengah pandemi corona dan total pasien yang positif corona serta meninggal akibat corona terus meningkat.

“Sampai sekarang kita masih belum tahu kapan wabah virus ini akan mereda,” ujar Hangga sapaan karib Satya Hangga Yudha Widya Putra.

Oleh karena itu, Pemerintah Pusat baik itu eksekutif ataupun legislatif, sektor swasta, lembaga-lembaga, asosiasi-asosiasi, perguruan tinggi-perguruan tinggi harus bekerjasama satu sama lain untuk mencegah dan menanggulangi corona.

Baca Juga :   7 Kades Terpilih Sekitar Lapangan ATW Akan Dilantik

“Sebagai Presiden Asosiasi Alumni MSU, kami para pengurus asosiasi mengadakan talkshow yang kedua yang membahas mengenai pandemi COVID-19 dan dampak COVID-19 terhadap perekonomian nasional dan masyarakat pedesaan. Hasil dari diskusi ini akan kami sampaikan ke Pemerintah dan masyarakat umum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pandemi COVID-19 dan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan pandemi ini,” tandasnya. 

Sesi pertama yang membahas, “Mengenal Lebih Jauh Tentang Pandemi COVID-19,”  dimoderatori oleh Dr. Dwi A. Yuliantoro, S.Pd. (B.A.), MA (Director of School Development, Directorate Pradita Dirgantara) dengan tiga pembicara, diantaranya Professor Dr. Siddharth Chandra, B.A., A.M. (Professor at James Madison College and the Director of the Asian Studies Center at Michigan State University).

Belajar dari sejarah Pandemi Influenza di Jawa dan Madura 1918-1919. Dimana saat itu fasilitas kesehatan, komunikasi, dan transportasi masih sangat minim, Pemerintah Kolonial Belanda telah mencatat kejadian Pandemi Influenza yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Jawa dan Madura dengan cermat. Catatan telah terjadi fatalitas/kematian sebanyak 1.2 juta manusia ternyata diragukan. Angka prediksi secara ilmiah dan telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah adalah lebih dari 3 juta orang.

Jika di jaman colonial upaya menutup-nutupi angka kematian akibat pandemi bisa dimaklumi karena sifat para pelapor dari wilayah koloni kepada negaranya bersifat ANS (Asal Negara Senang), maka di jaman kemerdekaan ini hal semacam itu sangat berbahaya dan tidak boleh terjadi.

Guru Besar FKH UGM, Prof. Dr. Hastari Wuryastuti, M.Sc. lebih membahas mengenai langkah-langkah pencegahan COVID-19. Menurut Prof Hastari, pencegahan lebih baik dari pengobatan dan ini semua tergantung dengan kepatuhan masyarakat menjalankan personal dan social distancing dan menjaga diri sendiri. Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan yang sangat tepat untuk mengatasi pandemi COVID-19.

“Namun seperti pada social distancing sayangnya banyak masyarakat yang kurang memahami,” ucapnya.

Sementara CEO Unlimited Media Partner, S.E. Indra Jaya Sihombing mengatakan, bahwa saat ini kecepatan tim medis dalam mengambil keputusan akan sangat berpengaruh terhadap peluang keberhasilan sembuh. Banyak hal yang dapat dicontoh dari tim medis dimana mereka mengajarkan kepada kita tentang prinsip dasar kemanusiaan.

“Jadi siapapun yang menderita penyakit ini harus dirawat dan ditangani dengan baik, tidak ada penolakan, tidak ada perbedaan, semua sama semua setara,” tegasnya.

Di sesi kedua yang membahas tentang “Prediksi Dampak COVID-19 terhadap Perekonomian Nasional dan Masyarakat di Pedesaan,” dimoderatori oleh Melina Gabriella, A.A, B.A, M.IDEC (Researcher-Development Economist IESR) dengan tiga pembicara yaitu Dr. Ir. Pos M Hutabarat, M.A. (Ketua Trade Management Development Indonesia dan Direktur Jenderal Perdagangan Internasional dan Kerjasama Industri, Kementerian Perindustrian, 2002 – 2005).

Baca Juga :   H Sukono Salurkan Bantuan 1500 Paket Sembako untuk Warga Katur

Menurutnya, perekonomian dan perdagangan Indonesia mengalami perlambatan yang drastis akibat pandemi COVID-19. Dalam hal ini Pemerintah harus berperanan aktif mengurangi efek pandemi dan setelah pandemi selesai, pemerintah segera mendorong sektor perhubungan, industri dan pertanian untuk pemulihan ekonomi yang cepat.

“Berdasarkan grafik World Trade Organization (WTO) pada minggu lalu, memprediksi bahwa perkembangan ekonomi dunia akan turun 36% pada tahun 2020 ini,” kata Hutabarat.

Sedangkan Dodik Pranata Wijaya, S.H., LL.M (Staff Khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi) mengatakan, bahwa ada banyak program bantuan sosial yang dilakukan oleh Kementerian Desa dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah pandemi COVID-19 di desa-desa di seluruh Indonesia.

Dodik menyampaikan, bahwa harapan Pak Menteri Desa, meminta kepada seluruh desa pada tahap 1 memprioritaskan program Padat Karya Tunai Desa, singkatnya program tersebut adalah bentuk gotong royong yang mana oleh dari dan untuk warga desa.

“Mari bersama-sama Gus Menteri Desa jadikan desa menjadi benteng terbaik COVID-19 karena untuk menangani pandemi ini kinerja kementerian saja tidak cukup, butuh sinergitas antar lembaga dan masyarakat yang baik,” tandasnya.

Sementara Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan (Ketua Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia dan Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, 1998 – 2003) membahas tentang imunitas vs patogenitas. Pada kasus COVID-19 yang perlu diperhatikan adalah ternyata negara-negara kaya lebih rentan terhadap COVID-19 diukur oleh jumlah korban meninggal dunia akibat COVID-19.

Persepsi umum yang telah terbangun adalah semakin kaya dan maju semakin sehat dan semakin kuat (immune) terhadap penyakit. Banyak hasil riset menyebutkan bahwa imunitas dipengaruhi oleh konsumsi makanan. Dalam hal ini terdapat hubungan positif antara imunitas dan kesehatan dengan keanekaragaman makanan yang dikonsumsi.

Hasil dari diskusi ini akan digunakan untuk rekomendasi kepada pemerintah meliputi bidang kesehatan, pertanian, kehutanan, perikanan dan perekonomian Indonesia. Diharapkan akan sangat membantu untuk penanganan Covid-19 di Indonesia.

Hadir dalam acara sebagai peserta, Dr. (HC) Ir. Burhanuddin Abdullah, MA (Menteri Koodinator Perekonomian Republik Indonesia tahun 2001, Gubernur Bank Indonesia tahun 2003 – 2008, dan Gubernur International Monetary Fund tahun 2003 – 2008), dan Dr. Setyanto P. Santosa (Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara tahun 1998 – 2000 dan Direktur Utama PT. Telkom tahun 1992 – 1996).(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *