SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Sebagian petani sekitar proyek pengembangan Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) lebih memilih tanam kacang hijau dan jagung ketimbang tanam padi kedua pasca panen padi pertama tahun ini. Meski terkadang hujan masih turun.
“Tahun ini untuk walikan (tanam kedua) milih tanam kacang hijau dan jagung saja, modal tidak begitu banyak, perawatannya juga lebih ringan,” kata petani Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Dasir, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (28/5/2020).
Di jelaskan, jika menanam padi hasilnya tidak akan bisa maksimal. Selain kebutuhan air tidak tercukupi karena akan masuki musim kemarau dan dimungkinkan juga akan banyak serangan hama. Sehingga jika dipaksakan menanam padi maka modal tanam yang dikeluarkan tidak akan seimbang dengan hasil yang diperoleh.
“Kalau tanam padi jelas terlambat karena sudah pertengahan bulan Mei. Jika ada hujan itu jarang tidak seperti pada bulan-bulan Februari dan Maret,” tandasnya.
Rata-rata petani sekitar proyek JTB adalah tadah hujan. Adapun keberadaan irigasi dari Waduk Nglambangan yang ada kini belum bisa berfungsi lagi seperti tahun lalu.
“Ada beberapa petani yang nanam padi kondisinya juga kurang subur. Saya juga milih nanam jagung, dan Alhamdulillah pertumbuhannya bagus,” sambung petani setempat lainnya, Lamidi.(sam)