SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Pasca panen padi kedua tahun ini, sebagian petani sekitar proyek pengembangan Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB) pilih tanam tembakau dan kacang tanah. Diantaranya petani Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, dan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
“Meski musim kemaraunya mundur, tahun ini saya pilih tanam tembakau,” kata Wanto, salah satu petani Desa Dolokgede, kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (19/6/2020).
Warga ring satu JTB ini menjelaskan, karena musim tanamnya di bulan Juni, dan tidak di bulan April maka masa panen nanti tidak akan dijual rajangan tapi daun. Jika di jual rajangan hasilnya kurang memuaskan, dan masuknya diasupan.
“Harapan kami mudah-mudahan harga tembakau tahun ini lebih bagus,” imbuhnya.
Berbeda dengan Jamin, petani Desa Butoh, Kecamatan Ngasem. Pria bertubuh jangkung ini lebih memilih tanam kacang tanah. Karena air sungai didekat lahan pertaniannya masih mencukupi untuk mengairi. Selain itu modal yang dikeluarkan juga tidak begitu banyak hanya kurang lebih Rp600.000 karena luas lahan sedikit.
“Luas lahannya berapa saya lupa, hanya lima kedok. Biasanya hasil panen sekira tiga kwintal. Jika dijual rata-rata mendapatkan uang Rp2 juta 500 ribu karena jualnya kacang sudah kering,” pungkasnya.(sam)