Budidaya Lele, Warga Ring 1 Blok Cepu Raup Keuntungan Rp4 juta Sebulan

20372

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Meski prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan, namun usaha budidaya ikan lele yang dilakukan oleh warga Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rahmad Aksan, sejak tahun 2016 lalu terus digeluti hingga sekarang. Hasilnya cukup cemerlang dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga.

“Semula hampir putus asa, karena kesulitan dalam mengelola. Tapi terus kami lakukan dengan berbagai cara sampai sekarang, dan alhamdulillah selama empat tahun sudah bisa dirasakan hasilnya. Sebulan dapat meraup keuntungan utuh Rp4 juta,” kata Rahmad Aksan, kepada Suarabanyuurip.com, di tempat budidaya ikannya, Selasa (23/6/2020).

Warga ring satu lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu ini menjelaskan, pekarangan yang digunakan untuk membudidaya ikan Lele seluas sekira 1.500 M2. Dengan modal sebesar kurang lebih Rp100 juta untuk membangun beberapa kolam. Total bibit yang ditabur sebanyak 100 ribu bibit secara bertahap atau estafet dalam penaburan bibit. Setiap penaburan bibit sebanyak 20 ribu bibit sebulan.

Teknisnya, ikan dipindah tempatkan kolam sebanyak empat kali dengan ukuran masing-masing kolam berbeda. Tabur bibit pertama ditempatkan di kolam bulat berdiameter 3 dengan kapasitas 5000 ikan. Setelah beberapa hari ikan dilakukan penyortiran atau disempling diambil ikan semi remaja untuk dipindah di kolam kedua berukuran 4×4 meter.

Baca Juga :   Mendag Optimis Expo Dubai Percepat Kebangkitan Ekonomi RI

Selanjutnya setelah tiga mingguan di kolam kedua, kembali ikan disortir lagi diambil yang sudah remaja dan sambil diketahui berat serta jumlah kematiannya baru dipindahkan di kolam ketiga dengan ukuran lebih besar yaitu 5×5 meter.

Setelah beberapa hari di kolam ketiga, lanjut pria yang juga Kepala Desa (Kades) Bonorejo ini, ikan kembali disortir dengan jeli karena siap jual dengan menyesuaikan pesanan untuk dipindahkan di kolam ke empat dengan ukuran 6×6 meter. Untuk modal pembelian pakan kurang lebih Rp70 juta. Sedangkan ikan siap jual usia antara tiga bulan sampai empat bulan.

“Saya jualnya dipengepul datang langsung kelokasi budidaya ikan,” ujarnya.

Di ungkapkan, sebelum wabah corona, sebulan dilakukan dua kali pengambilan oleh pengepul. Namun dengan adanya wabah corona jadi tujuh kali pengambilan dalam sebulan. Setiap pengambilan berapa kwintal, itu relatif tidak bisa dipastikan tergantung pengepul. Namun rata-rata produksi dalam seharinya 2 kwintal lebih, dengan harga satu kilogram isi 8 ikan Rp16.500.

“Total penjualan dalam sebulannya sebanyak 1,5 ton ikan lele,” tuturnya.

Baca Juga :   Wakil Panglima TNI Cek Transaksi KDMP di Bojonegoro

Pak Aksan, begitu Rahmad Aksan karib disapa, menambahkan, secara sepintas memang dilihat mudah tapi sebenarnya cukup sulit untuk mencapai kesuksesan dalam budidaya ikan lele. Karena butuh ketekunan selama proses. Selain itu juga perlu menjaga kebersihan agar tidak memunculkan bau yang kurang enak.

Untuk menghilangkan bau yang kurang sedap diperlukan sistem sipon untuk pengurasan air agar tidak terjadi penumpukan kotoran dari pakan didasar kolam. Pengurasan dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Hal itu sangat penting, karena selain menghilangkan bau juga tidak mengakibatkan ikan terserang penyakit.

Pihaknya juga siap menularkan pengalamannya bagi warga masyarakat yang ingin berusaha budidaya ikan yang tentunya bisa dilakukan. Agar tidak terfokus dalam dunia proyek migas saja.

“Selain bisa untuk menghibur diri, budidaya ikan ini saya anggap sebagai tabungan di hari tua. Untuk hasil berapapun yang saya dapat tak syukuri saja terpenting tidak rugi, Mas,” pungkasnya.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *