SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Penutupan perlintasan kereta api di Desa Purwosari, Kecatamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, secara permanen oleh PT Kereta Api dikeluhkan warga setempat. Perlintasan tersebut menghubungkan jalan lingkar flamboyan yang menjadi jalan alternatif warga untuk mengurai kemacetan di Pasar Desa Purwosari setiap pagi.
“Apalagi penutupan itu tidak ada sosialisasi lebih dulu kepada warga sekitar. Tiba-tiba langsung ditutup begitu saja,” ujar tokoh masyarakat setempat, Wahyu Setiawan kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (4/7/2020).
Wahyu menjelaskan penutupan perlintasan kereta api dilakukan pada Senin (29/6/2020) lalu. Akibatnya jalan lingkar flamboyan Purwosari yang selama ini digunakan warga tidak bisa dilewati dikarenakan akses jalan ditutup oleh palang rel kereta api.
Jalan lingkar flamboyan ini setiap pagi digunakan sebagai jalan alternatif untuk menghindari kemacetan di seputar Pasar Purwosari. Kendaraan roda empat yang akan melintas jalan poros umum kecamatan (PUK) dari arah selatan dialihkan melalui jalan lingkar flamboyan.
“Harusnya dimusyawarahkan lebih dulu dengan warga dan pemerintah desa untuk mencari jalan keluar. Karena perlintasan ini sudah jadi jalan alternatif yang setiap hari digunakan warga,” tegas pria yang tinggal dekat perlintasan kerata api itu.
Wahyu mengungkapkan perlintasan rel kereta api itu juga dijaga oleh 3 orang dari warga setempat. Dua orang bertugas mengatur perlintasan dan 1 orang mengarahkan pengguna jalan ke jalan lingkar. Penjagaan dimulai pukul 07.00 wib sampai 12.00 Wib, atau setelah aktifitas di jalan depan pasar sepi.
“Biasanya yang melintas secara sukarela memberikan uang rasa terima kasih kepada petugas jaga lintasan,” tuturnya.
Wahyu menyayangkan penutupan perlintasan rel kereta api terebut. Sebab sekarang ini jalan lingkar flamboyan Purwosari sedang dilakukan rehabilitasi berupa pengaspalan yang anggarannya bersumber dari APBD Bojonegoro tahun 2020.Â
“Kalau perlintasannya ditutup ya percuma jalan lingkar flamboyan ini dibangun. Karena selama ini jalan itu menjadi jalan alternatif,” pungkas wahyu.Â
Kepala Desa Purwosari, Umi Zumrotin membenarkan jika belum ada sosialisasi penutupan perlintasan rel kereta api yang menghubungkan jalan lingkar flamboyan dari PT KAI. Pemerintah desa (Pemdes), lanjut dia, hanya mendapat surat dari PT KAI dua hari sebelum perlintasan ditutup permanen.
“Hari Sabtu 27 Juni kita dapat surat yang salah satu isinya bahwa tanggal 29 Juni 2020 akan dilakukan penutupan portal karena dianggap portal Liar. Kemudian hari Senin gerombolan pegawai PT KAI datang ke balai desa untuk menindak lanjuti surat tersebut,” tutur Umi dikonfirmasi terpisah.
Menurut Umi banyak dampak yang dirasakan warganya akibat penutupan perlintasan tersebut. Beberapa masyarakat kehilangan mata pencaharian dari penjagaan portal, terjadinya kemacetan sekitar area Pasar Desa Purwosari karena salah satu tujuan pembangunan jalan lingkar tersebut adalah untuk mengatasi kemacetan di area pasar yang berbahaya.
“Kenapa kok berbahaya, karena setiap kereta lewat terjadi kemacetan panjang hingga sampai portal kereta di sepanjang jalan. Sedangkan jarak portal dengan pasar dan jalan nasional Bojonegoro – Padangan sangat dekat sekali,” jelasnya.Â
Dampak lainnya, tambah Umi, petani maupun pengelola sawah kehilangan akses jalan strategis menuju lahan perswahannya. Karena area tersebut merupakan wilayah persawahan.Â
“Harapan kami jalan lingkar itu bisa digunakan kembali agar dampak-dampak itu bisa teratasi,” pungkas kades perempuan yang dilantik 6 April 2020 itu.
Sementara itu, suarabanyuurip.com masih berupaya menghubungi pejabat PT KAI untuk mendapat penjelasan terkait penutupan perlintasan kereta di Purwosari.(suko)Â