SuaraBanyuurip.com -Â Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendorong peningkatan status desa di wilayahnya termasuk di sekitar industri minyak dan gas bumi (migas).
Kepala Bidang Pembangunan dan Kerjasama Dinas PMD Bojonegoro, Agus Raharjo, mengatakan, ada 2 desa dari 12 desa di Kecamatan Gayam, pada tahun 2019 yang berstatus maju.Â
“Indikatornya ada di aplikasi milik Kementrian Desa. Sementara yang mendata adalah tim pendamping Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa atau P3MD,” ujarnya, Rabu (15/7/2020).Â
Dijelaskan, tim P3MD akan turun ke lapangan untuk mengumpulkan data dan informasi sebelum menetapkan status sebuah desa. Namun paradigma dulu, sebagian besar kepala desa masih menyembunyikan data.
“Jadi tidak fair, sehingga desanya jadi tertinggal dan berkembang saja,” ungkapnya.
Salah satu indikator desa maju dan mandiri adalah mampu mentransparasikan anggaran dan kegiatan pembangunan di desa. Oleh sebab itu, tahun ini pemerintah pusat mewajibkan semua desa untuk mengaktifkan Website Desa (Webdes).
“Karena kinerja masing-masing desa kan beda, misalkan saja desa yang berstatus mandiri itu penyerapan DD dan ADD hanya dua kali. Kalau desa berkembang atau tertinggal bisa sampai tiga kali,” terangnya.
Agus mengakui, jika desa penghasil migas di Bojonegoro sudah seharusnya menjadi percontohan desa mandiri atau maju. Selain dibutuhkan transparansi anggaran karena memiliki ADD terbesar, juga keberadaan migas telah memberi partisipasi pada kemajuan desa melalui program pemberdayaan masyarakat (PPM).
“Sudah seharusnya desa ring satu migas untuk meningkatkan status desanya,” pungkasnya. Â
Untuk diketahui, dua di Kecamatan Gayam yang berstatus Desa Maju adalah Desa Begadon dan Ringintunggal. Sedangkan 10 desa berstatus Desa Berkembang yakni Desa Gayam, Mojodelik, Brabowan, Bonorejo, Beged, Katur, Ngraho, Sudu, Cengungklung, dan Manukan.(rien)