SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Wanuri, menyarankan agar Pertamina EP Cepu memperhatikan serius agar limbah pemboran sumur Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) tidak mengotori sungai kecil yang ada disekitar operasi.
“Kejadian pada tahun 2001, 2007, dan 2011 ditengarai ada limbah pengeboran warna hitam pekat mengalir ke sungai saat musim hujan meresahkan warga. Apakah limbah tersebut berbahaya apa tidak,” ujar Wanuri, saat memberikan usulan di acara sosialisasi Well Test sumur Gas JTB di Balai Desa Bandungrejo, Rabu (26/8/2020).
Pria yang juga perangkat Desa Bandungrejo ini menjelaskan, belajar dari tahun lalu tersebut untuk tidak terulang kembali. Sehingga perlu diperhatikan dan diantisipasi serius. Mengingat sungai kecil yang terletak tak jauh dari lokasi tapak sumur Jambaran East tersebut menjadi sumber penghidupan bagi warga Bandungrejo.
“Kurang lebih 70 persen warga Bandungrejo memanfaatkan air sungai kecil terletak di sebelah Timur rumah Pak Kades persis itu. Jadi jangan sampai terkotori limbah pemboran,” tegasnya.
“Selain limbah pemboran, bau busuk juga jangan sampai meresahkan warga. Dampak bau busuk itu bahaya apa tidak,” tanya Saijan warga setempat.
Menanggapi usulan tersebut, Manager JTB Site Office & PGA PEPC, Edy Purnomo mengatakan, bahwa PEPC mulai masuk di JTB pada tahun 2019. Meski demikian pihaknya nanti akan melakukan pengecekan air sungai pada musim hujan.
“Saat musim hujan nanti kita cek bersama tim HSSE, perangkat, dan warga, secara transparan agar semua tahu persisnya. Untuk bau tak sedap juga sama tim HSSE yang akan menangani karena sesuai bidangnya,” pungkas Edy.
Hadir dalam sosialisasi, perwakilan SKK Migas, Ami Hernawati, Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Bojonegoro, Muhayanah, Kepala Pelaksana BPPD Bojonegoro, Camat Ngasem Waji, dan Muspika Ngasem.(sam)