SuaraBanyuurip.com -Â Â Joko Kuncoro
Bojonegoro – Pandemi virus covid-19 sangat berpengaruh pada roda ekonomi masyarakat. Apalagi bagi para pedagang di area lembaga pendidikan dengan mengandalkan siswa sebagai pembali. Namun, saat lembaga pendidikan tutup, ekonomi harus terus berjalan.
Ahmad Khoirul Umam yang dulu berjualan makanan di sekolah, kini terpaksa memutar otak. Ia tak menyerah dan berusaha membuat layang-layang dan menjualnya. Warga Desa Temu, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro ini awalnya bekerja sebagai pedagang keliling menjajakan pentol bakar, sosis dan siomay. Namun, Februari lalu semenjak adanya virus, Umam terpaksa berhenti berjualan.
“Meski terbilang layang-layang musiman. Namun, bisa membantu perekonomian keluarga,†katanya.
Dia mengatakan, dalam sehari menerima pemesanan 20 hingga 30 rangkai layang-layang lengkap dengan suwangan (sejenis pita yang dibentangkan agar berbunyi). Setiap rangkainya, ia jual seharga Rp 10 ribu. Dan Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu untuk layang-layang sudah jadi tergantung ukuran.
Dalam sehari ia mampu mendapatkan Rp 200 ribu tergantung banyaknya pemesanan. Hingga kini, ia menerima pemesanan dari luar kecamatan. Seperti di antaranya Sumberrejo, Balen, Baureno, dan Kalitidu, bahkan pernah ada pembeli dari Lamongan.
“Dalam pemasaran menggunakan online, sehingga banyak pembeli dari luar daerah,†kata Umam.
Imbauan dari pemerintah untuk membatasi diri agar tidak bepergian membuat anak-anak atau orang dewasa membeli layang-layang buatannya. Bahkan, untuk memenuhi pemesanan ia mengajak bapaknya untuk membantu.
Untuk membuat satu rangkai layang-layang, ia membutuhkan waktu sekitar 30 menit, dari memotong bambu hingga merangkainya menjadi rangka layangan. Dalam pembuatan layang-layang tidak ada kesulitan. Namun, membutuhkan ketelatenan untuk merangkai maupun mengukurnya.
“Kalau rumit itu sudah pasti, karena harus menyamakan antar sisinya maupun ketebalan rankanya,” kata pria tiga saudara ini. (jk)