Penerimaan Negara dari Sektor Hulu Migas Diperkirakan Lampaui Target

20563

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Jakarta – Sektor hulu migas masih menjadi andalan sumber pendapatan negara. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan outlook lifting minyak dan gas bumi (migas) diperkirakan mencapai 99,5% dari target APBN-P 2020 dengan rincian untuk lifting minyak sebesar 705 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan salur gas sebesar 5.506 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

“Outlook capaian lifting ini akan menghasilkan penerimaan negara sebesar US$ 6,74 miliar atau 115% dari target APBN-P 2020 yaitu US$ 5,86 miliar dengan asumsi ICP (Indonesian Crude Price) US$ 38 per barel. Namun penerimaan negara akan meningkat lebih tinggi jika realisasi ICP lebih tinggi dari asumsi tersebut”, kata Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Susana Kurniasih melalui siaran resminya. Sebagai catatan, rata-rata ICP September 2020 adalah USD$ 39,8 per barel.

Susana menambahkan, untuk lifting minyak di Agustus melampaui target dan di September ini EMCL (ExxonMobil Cepu Ltd.) berhasil mempercepat pemeliharaan fasilitas produksi Banyu Urip sehingga bisa mendapat tambahan produksi 450.000 barel minyak atau rerata tahunan sekitar 1.200 BOPD. 

“Sedangkan untuk gas, kami berharap para buyer dapat melakukan penyerapan secara maksimal, sehingga terdapat tambahan lifting senilai 70 MMSCFD dan capaian bisa lebih bagus,” ujarnya.

Kegiatan pemboran juga akan naik pada Kuartal IV 2020 sesuai dengan Heads of Agreement Transisi Wilayah Kerja (WK) Rokan yang telah disepakati sebelumnya. 

“Investasi pemboran akan dilaksanakan November 2020 sebagai upaya menahan laju produksi WK Rokan setelah selama 2 tahun tidak dilakukan pemboran,” terang Susana.

Sedangkan beberapa capaian lain, Susana menyebutkan saat ini Reserve Replacement Ratio sudah mencapai 67,6% dengan perkiraan di akhir tahun sebesar 129,1% atau penambahan cadangan sebesar 952,7 juta barel setara minyak (MMBOE).

“Hal lainnya adalah untuk nilai investasi hulu migas mencapai US$ 6,1 miliar dan untuk pengendalian cost recovery saat ini US$ 5,3 miliar,” katanya.

Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 dan turunnya harga minyak dunia telah memukul kinerja industri hulu migas. Namun, berkat kerja keras SKK Migas dan KKKS serta dukungan dari pemangku kepentingan terkait, dapat melakukan skenario terbaik sehingga pada triwulan III tahun 2020 industri hulu migas mulai dapat melakukan recovery seiring dengan peningkatan harga minyak.

“Selain itu, kami berhasil menjaga proyek-proyek hulu migas untuk tetap berjalan sehingga target proyek yang dapat onstrem di 2020 akan terlampaui, bahkan beberapa proyek yang dijadwalkan onstream di 2021 dapat diselesaikan lebih cepat di tahun 2020,” pungkas Susana.

Sebelumnya, Senior Vice President Production ExxonMobil, Mohammad Nurdin menyampaikan produksi Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, telah memberikan sumbangan pendapatan besar bagi negara. Jumlahnya mencapai USD 325 – 350 juta per bulan atau setara Rp4,5 triliun lebih setiap bulanya. Revenue tersebut dari hasil produksi minyak mentah Banyu Urip. Saat ini produksinya mencapai 225 ribu barel per hari (bph), atau setara 32 juta liter per hari.

    “Itu kurang lebih 30% dari total produksi minyak nasional,” ucap pria asal Mojokerto, Jawa Timur, yang sudah 21 tahun bekerja di ExxonMobil itu.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *