SuaraBanyuurip.com -Â Â Ahmad Sampurno
Blora – Sebanyak 7 orang mantan pekerja harian lepas rekanan PT Pertamina (Persero) MOR IV, PT Wira Setya Indo Putra merasa kecewa dengan langkah perusahaan yang memberhentikan mereka sebelum pekerjaan selesai. Mereka diberhentikan dari pekerjaan karena dianggap tidak berkompeten.
Pemberhentian sepihak berawal saat PT Wira Satya Indo Putra mendapat pekerjaan perbaikan jalan berupa pemertaan aspal di Integrated Terminal Semarang Cepu (TBBM Cepu/ Fuel Terminal Cepu). Perusahaan tersebut merekrut pelaksana dan pengawas dari warga lokal.
Di tengah pekerjaan yang belum selesai, semua pekerja lokal tersebut langsung diberhentikan tanpa ada pembicaraan sebelumnya.Â
“Jelas kami merasa kecewa. Ini kan namanya pelecehan. Pekerjaan belum selesai, secara sepihak kami langsung diberhentikan,” kata Koordinator pekerja, Palapi, Kamis (29/10/2020).Â
Menurut dia yang lebih mengecewakan lagi pemberhentian dilakukan di tengah pandemi, ketika membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.Â
“Kami sudah urus SKCK, kami juga harus mendapatkan surat sehat dari dokter. Terlebih, orang yang kami bawa memang sedang tidak ada pekerjaan bersamaan wabah Covid19,” jelas Palapi.
Dijelaskan pekerjaan pemertaan aspal baru diinstruksikan setebal 3 centi meter dari setebal 5 cm sesuai rencana anggaran biaya (RAB).
“Jadi ya pekerjaan belum selesai,” tegasnya.
Pemberhentian terhadap tujuh pekerja ini, menurut Palapi, perusahaan tidak puas dengan hasil pekerjaan yang dilakukan.
“Bergelombang dan berpori. Ya jelas saja kan, karena itu masih lapisan bawah. Nanti baru ada lapisan atas,” tuturnya.Â
Setelah puas meluapkan emosi, mereka kembali ditawari untuk melanjutkan pekerjan. Tapi ditolak oleh ketujuh pekerja.
“Jelas kami tidak mau. Sudah terlanjur sakit hati. Kalau upah, memang sudah kami terima semua,” tandasnya.
Pekerja harian lepas tersebut hanya bekerja selama 14 hari ditambah waktu lembur.Â
“Kami direkrut oleh bapak Ilmi Syahroni sebagai pelaksana lapangan. Saya bertugas sebagai pelaksana sekaligus pengawas,” ujarnya.Â
Ilmi Syahroni, pelaksana lapangan PT Wira Setya Indo Putra, rekanan PT Pertamina (Persero) MOR IV, mengaku pemberhentian terhadap 7 pekerja tersebut karena hasil pekerjaannya tidak memuaskan.Â
“Tim pak Palapi tidak kompeten. Apakah kami salah memberhentikan?” ujarnya saat dihubungi terpisah melalui sambungan selularnya.
Menurutnya, semua hak upah sudah diberikan tanpa ada potongan.Â
“Saat bekerja, kami juga meminjami mereka Alat Pelindung Diri atau APD,” ucap Ilmi.Â
Pihaknya mengaku sudah menolong dengan memberikan pekerjaan di tengah masa sulit seperti ini. Sebab tanpa test mereka bisa ikut bekerja.Â
“Kalau kami terapkan seleksi test, mereka tidak akan lolos,” ungkapnya.Â
Ilmi mengakui dalam melakukan rekrutmen pekerja tanpa mempertimbangkan kompetensi.Â
“Saya percaya dengan rekan saya yang memberikan rekomendasi untuk menggunakan tenaga tim Pak Palapi. Yang informasinya sudah berpengalaman,” tandas Ilmi.
Namun, di tengah perjalanan pekerjaan dianggap tidak sesuai dan tidak memuaskan, sehingga pekerja harus diberhentikan.Â
“Saat diberhentikan pekerjaan mencapai 80%. Sekarang kami alihkan ke pihak lain,” tegasnya. Â
Ilmi menambahkan, pihaknya telah menawari koordinator pekerja (Palapi) untuk melanjutkan pekerjaan dan disiapkan material.Â
“Tapi tidak mereka tidak mau,” pungkasnya.(ams)