SuaraBanyuurip.com -Â Joko Kuncoro
Bojonegoro – Inspirasi bisa datang dari mana saja. Seperti yang dialami Nastain. Warga asal Desa Parangbatu, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban ini awalnya melihat temannya membuat kaligrafi. Lalu, ia tertarik dan mendalami usaha sovenir kaligrafi untuk pernikahan ataupun kelahiran.
Dia mengatakan, belajar kaligrafi masih terbilang pemula. Karena, ia mulai menekuni karya kaligrafi ini sekitar awal 2020 lalu. Nastain memilih menekuni kaligrafi karena telah menyukai seni kaligrafi semenjak diperkenalkan di ponpes.
“Juga ditambah sedikit bakat yang saya miliki,” katanya, Rabu (4/11/2020).
Kaligrafi yang dibuat Nastain, hingga kini baru ada 24 karya karena ia masih pemula. Namun, dalam pembuatan lelaki asal Desa Parangbatu, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, itu belum memiliki waktu khusus untuk membuat kaligrafi.
“Karena membuat kaligrafi hanya sebagai sampingan saja,” ungkap lelaki pernah belajar di Ponpes Assalam Bangilan Tuban itu.
Dia mengatakan, proses pembuatan kaligrafi diawali dengan mengecat bidang yang akan dipakai yakni papan pada pigora. Selanjutnya, membuat pola tulisan atau gambar dengan pensil. Namun, pola harus sudah dilapisi dengan lem bakar sehingga akan menghasilkan tulisan timbul.
â€Tulisan yang sudah selesai dilapisi dengan pewarna dari prada. Tahap terakhir, melakukan pembersihan bidang dari bekas-bekas pola gambar,†terangnya.
Kini sovenir kaligrafi karyanya sudah banyak diminati masyarakat. Bulan lalu saja, ia mendapat pesanan 9 sovenir pernikahan dan 6 sovenir kelahiran. Untuk harga berbeda-beda tergantung ukuran.
“Kebanyakan pemesanan pigura ukuran 12r dengan harga Rp 150.000 rupiah,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com.
Kaligrafi yang dibuat Nastain, hingga kini baru ada 24 karya karena ia masih pemula. Namun, dalam proses kreatifnya, mahasiswa IAI Sunan Giri ini belum menggarap penuh waktu.
“Karena membuat kaligrafi hanya sebagai sampingan saja,†ungkap lelaki pernah belajar di Ponpes Assalam Bangilan Tuban itu. (jk)