Kenapa Masih Melirik Batik Daerah Lain?

21574

SuaraBanyuurip.com – Teguh Budi Utomo

Tuban – Sekalipun dari sisi kualitas produk bisa ditarungkan dengan produk batik daerah lain, namun masalah pasar masih menjadi kendala bagi perajin Batik di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sisi itulah yang harusnya menjadi perbincangan serius, jika ingin produk unggulan tenun Gedog dengan motif batik khas Tuban menjadi ikon daerah.

Batik khas Tuban dengan kain tenun Gedog merupakan paduan akulturasi budaya China dengan ciri Burung Hong, dan tanaman Ganggang dari daerah Tuban. Jika dirunut akulturasi dua budaya ini memiliki sejarah panjang, seiring runtuhnya kerajaan Singasari dan berdirinya Majapahit.

Saat acara Dekranasda Jatim di Tuban, medio 2018 lalu,  sentra kerajinan batik Gedog di Tuban mencapai 1.234 unit. Mereka mampu menampung 1.701 tenaga kerja yang terdapat di beberapa wilayah pedesaan.

Rangkaian pelatihan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Semen Indonesia didampingi LSM Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban, telah menggarap perajin batik di wilayah Kecamatan Kerek, dan Merakurak. Program ini menghasilkan produk batik berbahan alami, tanpa unsur kimia sebagai bahan pewarna.

Sayangnya program ini tak berlangsung hingga tuntas karena kontrak pendampingan diputus. Skema pasar yang sudah disiapkan oleh para aktivis Non Goverment Organization (NGO) itu pun tak berlanjut.

Baca Juga :   Ormas Dilarang Sweeping Hiburan Malam

Pemkab Tuban juga sering membuat program pemberdayaan masyarakat, apalagi karena Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi program pemerintahan Bupati Fathul Huda. Program ini termasuk penguatan perajin Batik khas dari Bumi Ranggalawe.

“Saya pantau setiap perkembangan industri kecil di daerah Tuban, yang belum digarap secara sustainable (berkelanjutan) adalah masalah pasarnya. Kami akan coba mencarikan jalan keluar,” kata H Riyadi saat dimintai wawancara terkait pengembangan potensi kerajinan dan industri kecil beberapa waktu lalu.

Pada konteks bisnis apapun tingkatannya, kata Cawabup Tuban yang berpasangan dengan Aditya Halindra Faridzki, di samping kualitas produk sebagai jaminan mutu pasar juga menjadi wilayah yang harus dikelola secara baik. Bahkan pasar merupakan wilayah yang dinamis dengan berbagai perkembangan.

Jika pasar tak digarap secara profesional, apalagi saat ini memasuki era industri 4.0, rasanya pelaku UMKM di pedesaan bakal tertinggal jika tak didampingi. Di samping butuh kebijakan yang berpihak kepada mereka.

“Satu misal jajaran pemerintah daerah harus memakai produk hasil perajin batik daerah sendiri. Tak perlu membeli seragam dari pabrikan, apalagi dari luar daerah,” kata pria yang dekat dengan kalangan ulama itu.

Baca Juga :   Warga Tuban Hentikan Penambangan Batu

Termasuk juga seragam Batik anak sekolah, karyawan perusahaan yang beroperasi di Tuban, dan instansi vertikal. Pada hari-hari tertentu mereka memakai seragam Batik. Diantaranya telah memakai batik motif Tuban, namun dibeli dari wilayah Pekalongan, atau Solo dengan pertimbangan harganya relatif lebih murah.

Bagi pengusaha bidang pangan ini, akan membangkitkan berbagai industri kecil dan UMKM berbasis keluarga, dengan mempertimbangkan potensi daerah dan pasar. Selain itu harus sama-sama membangun mainset bahwa produk daerah adalah kebanggaan milik bersama.

“Kita harus bangga menggunakan produk sendiri, untuk apa harus membeli batik daerah lain sedangkan di daerah kita memiliki batik tak kalah kualitasnya,” pungkas Riyadi.

Di satu kesempatan saat bertemu insan pers di Javanilla Tuban, Aditya Halindra Faridzki,  menyatakan, telah menyiapkan program penguatan UMKM mulai dari keluarga. Program tersebut, diantaranya, sebagai pembangkit perekonomian setelah dikoyak pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) yang sampai akhir November 2020 belum mereda.

“Penguatan UMKM harus disertai dengan kebijakan pemerintah daerah, mulai proses produksi, permodalan sampai wilayah pasar harus digarap secara bersamaan,” kata Lindra, begitu politisi muda ini akrab disapa. (tbu)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *