Bertahan di Tengah Pandemi, Pengusaha Batik Kurangi Jumlah Produksi

21596

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Pandemi Covid – 19 membuat pesanan batik kian menurun. Rumah batik di Desa Ringintunggal, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berusaha tetap bertahan. Salah satu caranya dengan mengurangi jumlah produksi karena pembeli menurun drastis.

Rumah batik yang berada di ring satu Lapangan Minyak Banyu Urip Blok Cepu itu, memproduksi batik khas Jonegoro. Namun, di tengah pandemi selain pesanan batik menurun juga sepi pengunjung. 

“Akibatnya harus menurunkan jumlah produksi,” kata Iswatun Khasanah pengrajin batik.

Dia mengatakan, selama pandemi pihaknya mengalami kesulitan dalam melakukan pemasaran karena sepi pembeli. Meski penjualan kain batik saat ini lebih fokus pada media online, namun pembeli hanya sebatas bertanya saja. Kemungkinan, lanjut dia, perekonomian belum stabil sehingga daya beli masyarakat menurun.

Rumah batik sebelum pandemi ramai pengunjung selain menjual batik motif Jonegoroan juga menjadi wisata edukasi. Di rumah batik binaan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu ini, masyarakat bisa belajar mengenai pembuatannya terutama batik cap. Proses pembuatan batik di Desa Ringintunggal menggunakan cap bukan batik tulis.

Baca Juga :   Harga Beras di Bojonegoro Masih Stabil

“Ya karena lebih mudah dibandingkan batik tulis. Juga harganya lebih murah,” katanya, Selasa (8/12/2020).

Iswatun sudah menekuni batik cap selama tiga tahun. Ia masih terbilang konsisten karena dalam membuat batik bisa dilakukan dengan merawat anak. Dibandingkan dengan pekerjaan lainnya harus sehari penuh.

“Namun, pandemi saya mengurangi stok dan jumlah produksi. Nanti jika stok banyak pembeli tidak pasti akan rugi,” ungkapnya. (jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *