SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro - Proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Engineering, Procurement and Construction – Gas Processing Facility/EPC-GPF) Jambaran – Tiung Biru (JTB) terus dikebut untuk mengejar target onstream. Proyek senilai US$1,547 miliar yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu ditarget selesai pada kuartal dua tahun 2021.
Proyek EPC GPF JTB dilaksanakan konsorsium PT Rekayasa Industri-JGC Corp-JIND (RJJ), selaku kontraktor Pertamina EP Cepu (PEPC).
Site Manager PT Rekayasa Industri (Rekind), Zainal Arifin menyampaikan, progress proyek GPF JTB untuk Engineering, Procurement, Construction and Commisioning (EPCC) mencapai 80,35 % hingga akhir November 2020. Sedangkan progress konstruksi mencapai 61,50 %.
“Ada lima pekerjaan di proyek GPF JTB yang memasuki tahap penyelesaian,” ujar Zainal kepada suarabanyuurip.com, Minggu (13/12/2020).Â
Dijelaskan, kelima pekerjaan tersebut adalah penyelesaian pondasi dan precast concrete structure, subtation building/control room, road pavement & drainage, building infrastructure, dan pipa underground.
Sedangkan pekerjaan di proyek GPF JTB yang sedang berlangsung ada 8 pekerjaan. Yaitu pekerjaan fabrikasi dan instalasi pipa aboveground, painting pipa aboveground, steel structure, electrical dan instrument, pemasangan mesin (Mechanical), jaringan telekomunikasi, HVAC dan fire fighting, dab persiapan pre-commisioning.
Semua pekerjaan tersebut dikerjakan 44 perusahaan lokal Bojonegoro maupun luar daerah. Dengan jumlah tenaga kerja (Naker) yang terlibat sebanyak 6.240 orang, baik tenaga skill, semi skill, dan unskill.Â
Dari 6.240 naker itu, sebanyak 4.223 orang (68%) dari lokal Bojonegoro dan 2.017 atau 32% dari luar derah.
“Per 28 November 2020, total jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja mencapai 17.930.053 jam,” pungkas Zainal.
Untuk diketahui, cadangan gas JTB sebanyak 2,5 triliun kaki kubik (TCF) yang akan diproduksi 25 tahun. Proyek strategis nasional ini semula dirancang untuk menghasilkan sales gas sebesar 172Â Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD. Setelah dilakukan optimasi engineering diharapkan dapat menghasilkan sales gas sebesar 192 MMSCFD sehingga dapat meningkatkan penerimaan negara.
Dari produksi gas sebesar 192 MMscfd, sebanyak 100 MMSCFD dibeli Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan harga US$ 7,6/MMBTU. Sedangkan sisanya akan dijual Pertamina untuk memenuhu kebutuhan industri di wilayah Jatim dan Jateng.
Gas JTB yang dibeli PLN nantinya dialirkan melalui pipa transmisi Gresik-Semarang (Gresem) untuk pembangkit listrik di Tambaklorok, Semarang. Pembelian gas oleh PLN ini telah tertuang dalam Head of Agreement (HoA) dengan jangka waktu 30 tahun dari 2020 sampai 2050.(suko)