SuaraBanyuurip.com -Â Joko Kuncoro
Bojonegoro – Kenaikan harga kedelai akhir-akhir ini membuat perajin tahu di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, Jawa Timur tidak tenang. Para produsen tahu terpaksa menperkecil ukuran tahu karena menyesuaikan harga bahan baku.
Menurut Ketua Paguyuban Tahu Ledok Kulon Pranyoto Kenaikan bahan baku tahu ini terjadi semenjak September lalu. Sebelumnya, setelah kedelai mengalami kenaikan pasti akan kembali turun, namun hingga kini kenaikan terus terjadi. Bahkan, dalam sehari bisa mengalami dua kali kenaikan.
“Belum tahu sebabnya kenapa bahan baku tahu secara terus-menerus naik. Padahal, tahun-tahun sebelumnya tidak pernah seperti ini,” katanya, Rabu (23/12/2020).
Pranyoto menjelaskan perajin tahu terpaksa harus memperkecil ukuran tahu. Hal itu, dilakukannya karena menyesuaikan harga kedelai. Meski banyak pelanggan mengeluh karena ukuran tahu semakin kecil, namun dengan harga yang tetap.
“Jika harga bahan baku kedelai semakin tinggi, maka ukuran tahu juga diperkecil. Itu salah satu cara agar bisa bertahan,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com.
Lelaki asal Kelurahan Ledok Kulon itu, mengatakan harga kedelai tak terkendali. Dalam sehari saja bisa naik dua kali. Padahal, bahan baku tahu tersebut mudah didapatkan. Sebelumnya, harga kedelai impor hanya Rp 6.500 kini menjadi Rp 8.800 dan kenaikannya pun terjadi terus-menerus.
“Kenaikannya sekitar Rp 200 hingga Rp 500 dan terus terjadi hingga kini. Kemungkinan hari ini sudah menjadi Rp 9.000 dan kami hanya mampu bertahan karena harus tetap memperkerjakan karyawan,” kata Pranyoto yang sudah 22 tahun berjualan tahu.
Sementara itu, Ayik perajin tahu lainnya mengatakan, hanya bisa bertahan dengan memperkecil ukuran tahu untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Penghasilan turun, lanjut dia, jika harga tahu terus mengalami kenaikan pasti para perajin tahu rugi.
“Mau tidak mau harus membeli dengan harga itu. Karena permintaan tahu terus berlanjut dan harus dipenuhi,” kata lelaki usia 30 tahun itu. (jk)