SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami kenaikan sejak 2018 sampai 2020. Dampaknya perekonomian di Bojonegoro menurun hingga menyebabkan kesejahteraan masyarakat belum merata.
Kepala Bidang (Kabid) Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perindustrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disperinakertrans) Kabupaten Bojonegoro, Slamet mengungkapkan hal tersebut kepada SuaraBanyuurip.com saat ditemui di kantornya, Rabu (24/02/2021). Data jumlah pengangguran sepanjang 2020 sebanyak 41.255 orang.
“TPT ini diawali oleh melonjaknya pertambahan jumlah angkatan kerja yang berbanding terbalik dengan jumlah lowongan kerja yang tersedia,” ungkapnya.
Secara prosentase, data tahun 2018 TPT di Bojonegoro berada di angka 3,32 persen, meningkat 3,70 persen pada 2019, dan mencapai 5,60 persen pada tahun 2020. Angka tersebut menurut Slamet masih berada di bawah persentase TPT Jatim yang mencapai 5,84 persen.
Dijelaskan, penyebab naiknya angka pengangguran terbuka tiap tahun di Kabupaten penghasil Minyak dan Gas Bumi (Migas) ini adalah, meningkatnya jumlah penduduk Bojonegoro sehingga menyebabkan jumlah angkatan kerja juga naik. Selain itu, pendidikan dan keterampilan yang rendah menyebabkan masyarakat Bojonegoro tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja asal luar Kabupaten.
“Pengusaha atau perusahaan tidak membatasi lowongan kerja khusus untuk masyarakat Bojonegoro sehingga menyebabkan banyak kompetitor pendatang yang mengisi lowongan tersebut,” tandas Slamet.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Statistik Sosial Biro Pusat Statistik Bojonegoro, Kurnia Novi, mengatakan, sensus penduduk yang telah dirilis 21 Januari 2021 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Bojonegoro sebanyak 1.301.365 jiwa didominasi oleh produktif. Yakni usia 15 sampai 65 tahun, sebanyak 940.821 jiwa.
“Istilahnya saat ini Bojonegoro mendapatkan Bonus Demografi, di mana usia produktif lebih banyak dari usia tidak produktif. Ini adalah tantangan pada aspek demografi di bidang ketenagakerjaan,” ujar Kurnia.
Indikator ketenagakerjaan di Kabupaten Bojonegoro pada 2020, kata Kurnia, menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 71,29 persen menjadi 74,60 persen di 2020.
“Demikian juga tingkat pengangguran juga mengalami kenaikan,” imbuhnya.
Kenaikan jumlah penduduk usia produktif, dalam analisa Kurnia, bisa memacu pertumbuhan ekonomi jika mendapat penanganan secara tepat. Namun sebaliknya, bisa berpotensi menimbulkan ledakan pengangguran jika salah dalam penanganan.(fin)